Oleh-oleh tinggal di US : belajar, berbagi dan bermanfaat

Membaca judul tulisan diatas sebagian dari kita langsung berfikir apa iya??  mencerdaskan anak bangsa itu dengan melalui pendidikan, dan pendidikan itu memerlukan media, dan media itu membutuhkan biaya, semakin banyak media yang dipergunakan maka semakin tinggi biaya yang dikeluarkan. STOP berfikir semua segi kehidupan ini dapat diperbaiki dengan nilai mata uang, coba simak cerita saya berikut ini.

Satu setengah tahun yang lalu saya hijrah ke tempat ini, lebih tepatnya ke ibukota Michigan , USA bagian utara. Pertama kali menginjakkan kaki ke daerah ini saya hampir tidak percaya ini US, dalam benak saya adalah suasana yang hingar bingar, dengan apartemen yang berhimpitan dan lalulintas yang padat dan masyarakat yang tidak perduli satu sama lain. Namun kenyataan yang saya dapatkan jauh sekali dari apa yang saya bayangkan.

Saya datang tepatnya Juni 2014 dimusim panas (summer), melalui perjalanan yang panjang, dari bandara Soekarno  Hatta ke Narita (Jepang), lalu dilanjutkan ke Chicago (US), dari dilanjutkan lagi ke Detroit (US) dan terakhir dengan bus ke kota yang kami tuju. Sepanjang perjalanan banyak sekali daerah yang masih luas dan rimbun dengan pepohonan layaknya saya akan mudik ke Sumatra.

Sampai di kota ini kami dijemput oleh teman-teman yang sudah lebih dahulu menetap disini menuju apartemen. Kala itu malam saya belum dapat melihat situasi sekeliling apartemen, keesokan paginya saat terbangun dan keluar menuju balkon, masyaAllah indahnya pemandangan dibelakang rumah kami, rumput menghijau seperti karpet yang dibentangkan dan danau yang indah, semua nampak terpelihara dan bersih seperti lukisan.

Yang pertama kami lakukan adalah mendaftarkan anak-anak ke sekolah dan Alhamdulillah anak-anak dapat diterima dengan baik dan lingkungan sekolah yang baik juga sangat dekat dengan rumah, 5 menit saja dengan bis sekolah.

Setelah itu baru memikirkan apa harus saya lakukan disini untuk mengisi kekosoangan hari-hari selanjutnya karena saya tipe pekerja, saya tidak dapat berdiam diri dengan duduk didepan televisi menunggu hingga sore.

Lalu saya katakan kepada suami, tolong carikan saya tempat belajar bahasa inggris yang murah karena memang kami tidak mempunyai kemampuan finansial yang tinggi untuk membayar sekolah saya. Budget yang kami terima untuk hidup adalah budget untuk satu orang pelajar, dapat diartikan bahwa pemerintah memberikan dana untuk suami saja selama ini, tidak mencover keluarga. Jadi kami harus dapat mengatur keuangan yang diperuntukkan satu orang dapat cukup untuk empat orang.

Saya harus mendapatkan tempat untuk belajar bahasa inggris karena kemampuan saya berbahasa inggris yang minim dan akan menyulitkan saya beradaptasi dengan lingkungan sosial disini. Kami akan tinggal cukup lama disini, kurang lebih 4.5 sesuai beasiswa yang didapatkan.

Lalu suami mencari dengan mesin pencari dan akhirnya bertemulah dengan tempat belajar bisa dikatakan rumah belajar, namanya Friendship House MSU dan tempatnya di area kampus MSU juga. Dan kami sepakat untuk segera mengunjungi tempat tersebut. Saat kami mendatangi tempat tersebut, seperti rumah besar, ada ruang tamu lalu ada ruang belajar dengan meja besar dan dapur . Lalu kami ke lantai 2 untuk bertemu dengan Direktur sekolah ini. Sambutan yang luar biasa ramah membuat saya yakin bahwa inilah tempat belajar yang saya cari. Saya termasuk tipe yang memilih nyaman dibandingkan berfasilitas, karena tempat indah dan berfasilitas itu belum tentu nyaman, justru tempat yang sederhana namun hangat akan lebih terasa nyaman.

Cukup kaget kami mendapatkan info kalau belajar bahasa inggris disini gratis, tidak perlu membayar guru-guru yang mengajar. Kami cukup membayar $10 untuk biaya pendaftaran saja. Hampir tidak percaya saya mendengar informasi ini, bagaimana tidak dengan suasana belajar yang nyaman, bisa belajar dari senin sampai dengan sabtu, bebas minuman kopi, teh, coklat dan kita bisa memasak juga untuk makan siang. Dapur yang cukup fasilitas, mulai kulkas, kompor gas 4 mata, oven besar, microwave dan peralatan makan dan minu juga masak. saya diberikan jadwal belajar mulai senin sampai sabtu, banyak sekali kelas yang dapat saya ikuti, mulai kelas grammar, listening, vocabulary, speaking, dll.

Kehidupan dengan babak yang baru dimulai, hampir setiap hari saya datang untuk belajar. Memang cukup sulit saya rasakan, selain usia yang sudah tidak muda lagi untuk belajar, guru berbicara dalam bahasa inggris dan teman-teman juga dari berbagai negara dengan aksen yang bermacam-macam. Akan banyak sekali nanti yang akan saya ceritakan mengenai pengalaman saya belajar, namun intinya saya ingin mengulas bagaimana dapat mendirikan tempat seperti ini, proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dengan siswa tidak perlu membayar.

Semakin lama saya semakin mengenal tempat ini dan sudah seperti rumah sendiri, lalu saya mulai menganalisa dan berfikir, alangkah bagusnya jika di negara saya ada banyak tempat seperti ini. Tapi tetap harus menganalisa darimana dana yang didapatkan untuk mengelola tempat ini yang pasti membutuhkan biaya cukup besar untuk mencover biaya kebersihan, air, listrik, gas, minuman, alat-alat tulis, dll. Sedikit banyak saya akhirnya mengetahui jika dana didapatkan dari donatur. Lalu siapa donatur itu? donatur bisa perorangan dan sebagian besar dari komunitas rumah ibadah (Gereja), mungkin juga rumah ibadah lain karena mayoritas disini adalah komunitas Gereja. Donasi berupa uang tunai atau perlengkapan belajar dan mengajar. Lalu darimana para donatur itu mengetahui keberadaan kegiatan ini? Sekolah mengirimkan surat atau proposal untuk mengundang menjadi donatur, dan para donatur akan mendapatkan laporan keuangan dan kegiatan secara berkala. Sebuah tempat pendidikan biaya terbesar juga untuk membayar staff dan tenaga pengajar, dan ditempat ini baik staff maupun tenaga pengajar adalah volunter atau tenaga sukarelawan, bekerja sosial. Apakah berkwalitas tenaga pengajar yang tidak dibayar? Tentu saja, tenaga pengajar adalah orang-orang yang berpengalaman dalam bidang pendidikan dan bidang lainnya. Sebagian besar mereka adalah dosen dari berbagai Universitas yang sudah pensiun, dan ada juga guru-guru muda yang memang sudah berpengalaman mengajar di negara masing-masing. Apa  iya mereka mau mengajar sukarela tanpa dibayar dengan status sosial mereka yang cukup tinggi, nah disinilah kita harus belajar banyak lagi, bagaimana menerapkan ilmu yang kita dapat tidak hanya mengacu kepada nilai ekonomis tapi juga kenilai sosial, buktinya sekolah ini sudah berdiri cukup lama dan tenaga pengajar terus bermunculan. Nilai berbagi itu yang tinggi disini, dan mereka mengajar dengan totalitas, disiplin waktu dan persiapan yang baik saat mengajar bahkan mereka sering membawa alat peraga untuk mengajar juga beberapa kali membawa aneka makanan untuk dibagikan kepada siswa.

Yang mungkin masih menjadi pertanyaan darimana komunitas itu mendapatkan dana untuk disumbangkan ke sekolah sekolah seperti Friendship House dan tempat lain. Ini yang mungkin membuat kita harus banyak belajar lagi, disini sumbangan itu mengalir deras baik dari perorangan, perusahaan, juga pemerintah daerah. Bagaimana cara membuat orang-orang dengan sukarela memberikan sumbangan dalam jumlah kecil dan besar dan berkesinambungan, nah ini ceritanya akan lebih panjang lagi.

Lalu siapa saja yang boleh menjadi siswa? siapa saja boleh menjadi siswa, untuk disekolah ini karena memang lokasinya di kampus MSU sebagian besar adalah siswa international yang memerlukan belajar bahasa inggris atau keluarga siswa, seperti suaminya siswa di MSU atau sedang ada program pertukaran pelajar atau program kerjasama maka istri atau anaknya belajar bahasa inggris disini. Kami sudah seperti keluarga besar disini, sudah tidak lagi merasa berbeda negara, bahasa dan agama. Nilai-nilai berbagi yang ditanamkan oleh guru dan budaya disini sudah mulai merasuki kami juga, semakin merasakan bahwa perbedaan itu bukan untuk disamakan namun untuk saling memahami dan menghargai.

Saya termasuk yang sering membawa makanan untuk dibagikan kepada teman-teman, untuk apa? banyak sekali manfaat yang saya dapatkan dan saya ikhlas memberikan tanpa mempunyai niat yang tidak baik, kalau merinci keuangan kami rasanya tidak mungkin untuk berbagi, tapi kalau berfikirnya seperti itu kapan kita akan berbagi, menunggu kita kaya raya baru berbagi, bagaimana jika kita memang diberikan rezeki sebatas itu berarti selama hidup kita tidak akan pernah berbagi. Dan teman-teman pun melakukan hal yang sama, kami jadi mengetahui berbagai jenis makanan dari berbagai negara.

Bawalah apa saja untuk berbagi, sekedar sekerat roti hasil masakan  yang sudah saya tinggalkan untuk keluarga  dan dibawa kesekolah, selain hal ini menjadi media saya untuk berkomunikasi juga saya ingin memperkenalkan makanan dari tanah air.

Tidak ada kesia-siaan jika niat kita adalah baik, saya katakan jika dinegara saya mempunyai bisnis boga, saya juga mengajar baik yang berbayar maupun yang sosial, dan saya juga sering menjadi nara sumber berbagai seminar yang berkaitan dengan wirausaha dan media sosial sebagai media promosi. Dan beberapa kali diundang oleh media Telivisi, majalah, radio untuk kegiatan seputar boga. Saya tidak bermaksud untuk riya dengan menceritakan berbagai aktifitas saya, karena di sekolah ini setiap kali akan belajar dan ada siswa baru maka kami harus memperkenalkan diri, asal negara, keluarga dan kegiatan dinegara masing-masing.

Alhamdulillah setelah hampir satu semester saya bergabung di tempat ini, Direktur meminta saya untuk menjadi tenaga pengajar volunter untuk International Cooking Class, mulanya cukup kaget mendengar permintaan ini karena komunikasi saya dalam bahasa inggris masih kurang, namun support dari berbagai pihak membuat saya memutuskan untuk menerima permintaan ini. Dan sekarang sudah menginjak semester ke 3 saya menjadi guru volunteer disini.

Saya berharap tulisan saya ini bisa menggugah teman-teman untuk membuat komunitas belajar seperti ini dengan mengesampingkan nilai ekonomi, Insya Allah nilai ekonomi akan kita dapatkan dari sumber yang lain.

 

 

Posted on 24 Desember 2015, in Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas, Makanan Tradisional, Pendidikan, Pengalaman tinggal di US, Sosial and tagged , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Amin mbak desi. .semoga rumah belajar semacam friendship house akan bermunculan di tanah air yah

  2. jadi kangen masakan bunda desi, hidup di sana sangat menginspirasi aku yg belum nyemplung ke komunitas luar negeri. “Pekerja sosial” memang tak akan pernah “mati” :)
    sehat terus ya bunda

  3. mamang klo udah rezeki itu gak akan keman, dan untuk berbagi itu gusah nunggu kita harus kaya, kalau kita melakukan dengan ihlas pasti semua ada hikmahnya,!!!

  4. alhamdulillah sekali ya jika bermanfaat.. karena tugas kita adalah saling menjadi manusia yang bermanfaat..

  5. So who’s worse… the TH fans or the Constantine fans? ud83dude09 Come on http://tropaadet.dk/pollybarber34635081845

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: