TAWURAN ANTAR PELAJAR

Kita ortu masuk dalam bagian itu…. benarkah???

Disalah satu seminar yang aku ikuti dipaparkan bahwa factor gizi tidak saja mempengaruhi tumbuh kembang anak secara raganya, tapi juga jiwanya. Anak anak yang saat batita, balita kekurangan gizi maka akan berdampak saat masa remajanya, kurang bisa mengontrol emosi, arogan, sensitive dan kecil hati.

Jika dikaitkan dengan maraknya tawuran antar pelajar, antar warga dan antar kampung yang pemicunya dari hal hal yang dapat dikatakan sepele nampaknya uraian diatas masuk akal juga. Sisi sensitive yang sedikit saja terkena imbasnya luar biasa dan melakukan penyerangan yang tidak kenal situasi dan kondisi, tidak perduli apa akibat setelah itu.

Saat aku kecil mulai tk, sd, smp, sma bahkan mahasiswa tidak menemukan yang namanya tawuran antar pelajar apalagi di sekolah, bukan karena sekolah tempat aku belajar dapat dikatakan terbaik di kotaku saat itu, bahkan sekolah sekolah yang dulunya di sebut STM pun tidak mendengar hal tersebut, lalu kenapa sekarang begitu banyaknya kita temukan tawuran antar pelajar.

Melihat mereka jalan bergerombol lebih dari 25 orang rasanya bergidik, membayangkan tubuh mereka yang nyaris sama dengan laki laki dewasa saling memukul, menerjang, melempar, membabi buta, yang terlihat kalah pun tidak diberi ampun terus dikejar, hati nurani sudah hilang….kadang petugas pun melerai mereka dari jarak yg tidka terlalu dekat, sangat dipahami dan dimengerti kondisi seperti itu mereka tidak mengenal arti takut…

Setelah dibubarkan oleh petugas mereka berjalan laksana arjuna menang dimedan pertempuran, namun juga laksana tikus baru keluar dari sarang, baju mereka kotor lusuh kadang robek. Tidakkan mereka sadari, orang tua mereka yang berfikir dirumah bagaimana : tetap bisa membeli sabun untuk mencuci pakaian itu, tetap bisa membayar listrik untuk menggosok pakaian itu, tetap bisa membeli minyak tanah atau gas kecil untuk masak makanan mereka, tetap bisa membelikan mereka buku buku, jika jam pulang sekolah belum tiba dirumah, panjang leher menengok jam, dan keluar masuk rumah berharap anak anaknya segera tiba…

Saat aku Tanya bagaimana cara kita berkomunikasi dengan anak supaya kelak mereka mengerti kerja keras dan usaha orang tua dalam mengasuh mereka. Jawaban yang cukup sederhana dari sang pembicara ” anak anak sejak kecil diajak bermusyawarah apa dan bagaimana keluarga ini, kondisi keluarga ini, jelaskan yang sebenarnya tidka perlu menutupi keadaan supaya mereka tetap nyaman dan bergaul luas” ada hal hal yang memang belum atau tidak bisa disampaikan ke mereka jika masalahnya sangat pribadi, namun hal hal umum seperti tidak meluluskan semua permintaan mereka dengan memberikan alasan yang masuk ke dalam akal sehat mereka, katakan tidak jika memang tidak bisa dipenuhi dan beri alasan kenapa tidak dapat memenuhinya, contoh kecil saja: saat berjalan ke mall anak anak merengek minta dibelikan mainan sementara budget kita hanya untuk makan dan membeli buku, berikan pilihan kepada mereka ” tadi katanya mau beli buku cerita dan makan ayam goreng, jika dibelikan mainan maka salah satu dari rencana mesti dibatalkan, sekarang silahkan pilih, jika tetap mau beli mainan maka buku atau makan salah satunya tidak jadi, karena uang kami tidak cukup untuk itu” sejenak mereka akan bersikeras dengan kemauan mereka karena rasa ego mereka yang tinggi, beri mereka waktu untuk berfikir, lalu tanyakan kembali, bagaimana? Sudah ada keputusan, jika mereka tetap bersikeras membeli mainan tetap kita ortu jalankan rencana yang sudah dikatakan tadi, saat mereka merengek jangan dituruti, karena akan dijadikan senjata untuk meluluskan permintaan mereka dengan rengekan rengekan tadi. Sekali kita menerapkan pola tegas namun melibatkan mereka untuk berikutnya mereka sudah punya pilihan untuk diri mereka.

Pola ini pernah aku terapkan kepada anak anak hingga mereka menghentikan bermain zona game di mall dan sampai sekarang merupakan pilihan terakhir , mereka mulai bisa membuat skala prioritas. Terkadang hati memang tidak tega, masih suka menawarkan pada akhir jalan jalan, ini ada sedikit sisa uang apakah mau bermain, mereka sudah langsung menggeleng, lega rasanya rasa bersalah yang mendera hilang sudah. Celoteh mereka kadang membuat haru” ya lebih baik kita beli buku bisa dibawa pulang dan setelah itu kita makan, daripada main di zona, kadang kesel kalo kalah terus udah itu suka nakal mesinnya, lalu mereka berhitung coba ya dengan uang 25 ribu pulangnya Cuma dapat 3 permen dan satu pencil, coba kalo ke toko buku sudah dapat macam macam ini….”

Hal hal yang lain pun disampaikan kepada anak-anak, mereka memang seperti tidak mengerti dengan bahasa orang dewasa tapi jika penyampaian dengan bahasa mereka , akan cepat mereka tanggapi. Pada dasarnya mereka adalah mahluk yang senang diajak bermusyawarah karena kodrat manusia adalah mahluk social, diberikan tanggung jawab dan marasa diperlukan, katakan kepada mereka jika kita lelah, tidak sanggup dan butuh pertolongan mereka. Beri mereka tanggung jawab dan pemberian beban pekerjaan dirumah sesuai dengan kemampuan mereka, dan lihat hasilnya, bantuan mereka meski kecil akan sangat berarti, walaupun sekedar menaruh sendok ditempatnya, membuang sampah ditempatnya, menyapu ala kadarnya…lanjut sang pembicara…

Dengan adanya sosialisasi dirumah yang baik terhadap masalah dirumah kepada anak-anak, melibatkan mereka dalam kegiatan di rumah, meposisikan mereka sebagai penanggung jawab di rumah, komunikasi yang dua arah, akan membuat mereka mencintai diri sendiri dan juga orang-orang dirumah, ini menghambat mereka jika akan melakukan hal hal yang negative dilingkungan luar, rasa sayang akan tumbuh dengan sendirinya, bahasa kasar mereka ” kasihan nyokap bokap gw dirumah” ini sebenarnya sangat dalam bisa mereka katakana di lingkungan social mereka, secara halus ini sudah menolak ajakan negative yang mereka terima. Semoga tawuran dan aneka kekerasan lainnya akan berkurang dikemudian hari…sang pembicara menutup seminar hari itu…..

 

Iklan

Posted on 10 September 2013, in anak, Keluarga, Sosial. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. sip sip sip … nice sharing…

  2. belum sempet baca semua… tapi bagus… book mark dulu deh… nice inpoh…

  3. Iya benar sekali…jgn terlalu menuruti permintaan anak. karena hal itu justru membuat anak manja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: