Bermain di media sosial seperti minum Es Campur

Sudah lama tidak membuat tulisan di blog ini seputar cerita-cerita, sebagian posting tentang aneka masakan saja semenjak hijrah ke US 1.5 tahun silam. Dan itupun diposting di blog defidi.web.id

Ketika melihat memori yang sering diingatkan oleh facebook, ingatan melayang bagaimana pertama kali berkenalan dengan facebook, masih sekedar posting 1 atau 2 kalimat saja, ya dapat dikatakan tanpa makna, dan teman pun masih dapat dihitung dengan jari. Semakin lama semakin banyak teman dan semakin sering posting berbagai hal, namun yang masih selalu diusahakan untuk dijaga adalah tata cara berkomunikasi di media sosial. Semenjak mengenal facebook sampai sekarang baru belakangan ini mendapatkan kritikan pedas seputar postingan. Entah apa yang ada dipikiran sang pemberi kritik. Media sosial adalah tempat banyak pengguna untuk menuangkan apa saja yang ingin dituangkan namun sekarang dibatasi dengan adanya UU IT.

Menggunakan media sosial itu seperti minum Es Campur, pertama dicari-cari dulu campuran yang disukai, mulai nangka, alpukat, kacang merah, agar-agar, dan biasanya kolang kaling yg ditinggalkan kalau dapat yang keras. Jika kurang manis lalu minta ditambahkan gula, jika kemanisan minta ditambahkan es serutnya. Sama prosesnya dengan media sosial, kita mencari teman yang kita kenal dan sukai lalu semakin banyak mulai kita saring, mungkin yang seprofesi, yang enak diajak ngobrol, kemudian saringan lebih diperketat, yang kurang memberi manfaat atau postingan tidak berguna kita unfollow, selanjutnya disaring lagi hingga di unfriend.

Tujuan pengguna media sosial beragam, dan umumnya pencitraan. Kenapa berpendapat seperti itu? sebagai mahluk sosial manusia selalu mencari pencitraan diri, tinggal kita memilih mau citra yang baik atau yang buruk. Jika ingin citra yang baik maka buatlah postingan yang baik, yang bermanfaat untuk orang lain, mungkin bisa diselingi humor sebagai penambah manis citranya. Jika ingin citra yang buruk maka buatlah postingan yang buruk, caci maki, sumpah serapah, dll. Selain postingan, gambar atau foto merupakan faktor pendukung untuk pencitraan tadi, mungkin jika ingin tampil cantik diposting foto2 yang tampil cantik, dipilih foto yang terbaik, dari foto natural sampai yang sudah diubah-ubah supaya tampil indah.

Setiap orang berhak posting apapun dan berhak pula memberikan kritikan apa saja terhadap postingan orang lain. Tapi setiap orang berhak juga membalas atau tidak kritikan yang muncul, berhak unfollow dan berhak unfriend. Jika kita tidak suka dengan wall seseorang, ada baiknya kita unfollow sehingga postingannya tidak masuk dalam wall kita dan kita tidak perlu membacanya. Atau sekalian unfriend jadi benar-benar tidak lagi terbaca oleh kita.

Postingan saya di facebook sebagian besar tentang aneka masakan atau cerita keseharian dari kumpulan pengalaman pribadi atau cerita teman-teman, dan saya tidak pernah menyebutkan nama orang dalam postingan itu, jadi kalau merasa ada yang dirinya tersindir akan tulisan saya ya ajaib saja, tapi ya bagus juga artinya tulisan saya dapat membuat orang lain merasa dirinya disindir meski tidak pernah ada niat saya untuk melakukan hal itu, niat saya adalah berbagi cerita sebagai guru kehidupan.

Lalu dilanjutkan lagi di komentari kalau saya membuat pencitraan diri seakan saya ini malaikat kebaikan, citra seorang wanita yang sangat baik, loh memang itu lah tujuan saya di media sosial, masak iya ada pengguna media sosial ingin membuat citra dirinya buruk, kalau pun ada ya sangat disayangkan saja, seburuk-buruknya orang inginnya dianggap baik.

Lalu tulisan saya dikomentari dengan komentar yang pedas bahkan dapat dikatakan tidak etika, tapi sekali lagi pengguna bebas melontarkan komentar apapun toh akan merugikan dirinya sendiri dengan komentarnya yg tidak baik, dan saya pun bebas untuk membalas atau tidak komentar tersebut, bebas untuk menghapus komentar itu.

Saya pun akan melakukan hal yang sama seperti minum es campur tadi, bukan tidak ada keberanian untuk membalas semua caci maki itu, suatu perbuatan yang sangat mudah tapi apa benefit nya untuk saya, ketika kita dicaci maki rasanya sakit sekali dihati dan begitu pula yang akan menerimanya jika kita membalas lagi.

Setiap manusia mempunyai keterbatasan masing-masing dan saya berfikir itulah keterbatasan dia, tidak bisa lebih lagi. Ya sudahlah tidak akan mampu kita untuk mengajaknya berfikir lebih jauh. Diam dan menghindar akan lebih baik.

Posted on 23 Desember 2015, in Cerita-cerita, lingkungan, Pendidikan, Sosial. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. wahh judulnya sangat menggelitik sekali.. tapi emang enak gan kalo udah pantengin sosmed

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: