Cerita defidi : mencintai diri sendiri boleh tapi jangan memilikinya, ada Pemilik Sesungguh-Nya

 

Aktif dalam organisasi yang berbasis keanggotaan maupun terlibat dalam kegiatan aneka rupa, aneka rasa, aneka warna sudah bukan merupakan hal baru untuk aku sejak kecil hingga kini. Jika ditanyakan kenapa, ya jawabnya aku suka berteman, banyak teman, share banyak hal, wajar sebagai mahluk social kita ingin sosilisasi kan, syukuy-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain, dan tentu saja banyak cara yang dilakukan untuk senantiasa menjaga tali silaturahim dalam berbagai kegiatan tersebut. Sulitkah? Sederhana sebenarnya, saling menghormati, saling mengerti dan memahami, itu saja. Nmun bukan hal yang mudah ke 3 nya diterapkan dalam satu komponen jiwa seseorang. Sifat egois manusia yang memang sudah ada sejak masih dalam kandungan yang kadang membuat 3 komponene itu tidak dapat bersinergi.

Untuk membuktikan keegoisannya itu banyak hal yang dilakukan, arogansi, sangat menjaga image, mencari perhatian dengan berbagai cara, haus akan banyak hal demi untuk kepentingan diri sendiri. Nah yang terakhir ini yang sangat berbahaya sebenarnya, UNTUK KEPENTINGAN DIRI SENDIRI. Semua cara ditempuh baik yang sangat halus, halus sekali, halus, sedikit kasar, kasar, kasar sekali sampai sangat kasar.

Yang sering sekali terjadi adalah mencari pembenaran dengan segala rupa cara, intinya POKOKNYA SAYA BENAR. Nah untuk mencapai itu semua jika dalam diri sendiri tidak mampu maka akan mencari bantuan dari luar, tapi tetap dengan kepentingan diri sendiri tadi. Mulailah aneka cara dilakukan, melakukan hal-hal yang dianggap dapat menyenangkan pihak pendukung, seakan tidak bisa hidup tanpa dukungan pihak pendukung, seakan seiya sekata, terlihat begitu harmonis. Coba kita tanyakan pada hati nurani, sebagian jawaban adalah ” ah itukan supaya mereka mendukung saya, jika keinginan saya selalu tercapai dengan dukungan mereka saya tidak perlu capek capek melawan orang orang atau keadaan yang tidak saya sukai, yang tidak mau menuruti keinginan saya, hidup ini kan strategi, perlu taktik yang jitu supaya apa yang kita inginkan tercapai dengan banyak cara, kalo ada cara yang mudah meskipun itu menyakiti orang lain, saya tidak perduli, siapa suruh tidak pintar dan licik mengatur strategi”.

Contoh kecil sajalah, sudah tahunan bersama dalam satu kelompok, kemudian ada sedikit ketidaknyamanan yang dibuat anggota kelompok, hal sangat kecil sebenarnya , namun menyangkut diri sendiri tadi ini membuat hal kecil itu menjadi besar, sangat besar bahkan sanggup memutuskan silaturahim, sampai sedemikian kah cintanya pada diri sendiri. Terapkan saling menghormati tadi, misal tegurlah secara pribadi, klarifikasi masalah yang muncul, lalu coba mengerti mengapa hal tersebut dilakukan oleh teman kita, setelah itu dipahami dan coba bantu untuk menyelesaikan masalah yang muncul tidak perlu pembelaan mati matian laksana dimedan perang, karena belum tentu pihak yang menanyakan ktidaknyamanan itu masih ingat hal itu. Mungkin saja dia bertanya sekali sekedar dianggap penuh perhatian, atau bahkan sekedar sapa dalam canda atau niatnya sekedar bertanya dan ramah tamah saja ” pa kabar, sendiri saja neeh datangnya, katanya rame-rame, gimana ini , padahal saya sudah siapkan untuk banyak orang loh sesuai info kamu waktu itu” yang menegur adalah orang yg kita anggap special untuk diri kita atau ada banyak hubungan interaksi yang akan terjadi kedepannya dengan orang itu, atau untuk menjaga keberadaan diri kita. Dan sebenarnya penanya itu mungkin setelah menegur kita dia sdh lupa koq tadi bicara apa dengan semua kesibukannya.

Nah yang merasa dirinya khawatir sang penegur tidak lagi percaya atau akan menggangu eksistensi dirinya, dengan pongahnya bak raja hutan memanggil pasukannya , tentunya langsung curhat ke teman yg dianggap akan mendukung” saya nggak enak sekali ditegur tadi, bla bla bla, ditambah tambah ulasannya, cobalah kamu yang tegur, saya nggak enak kalo langsung, kan kamu koordinir dalam kegiatan” pesan berantai pun terjadi antara penguasa dalam kelompok, dan sampai ke tangan anggota yang ditunjuk sudah dikemas cantik yang penuh keyakinan orang ini akan terpojok tak bisa berkutik sedikitpun, jika menggeliat sedikit saja, pasukan pemusnah langsung bereaksi, kenapa? Ya karena mereka yang membuat rantai tadi. Lawan jatuh tersungkur dan mundur. Begitu mudah ya hal yang sederhana untuk menggusur sahabat kita, saudara kita demi eksistensi diri tadi, bahagia kah????? 99 % hati nurani menolak semua startegi licik seperti itu, tapi langsung ditampar oleh nurani yang lain” sudah kalo kamu mengalah sama saja bohong dan kamu akan dianggap pembawa berita bohong, sudah tidak perlu dipikirkan toch teman kamu bukan Cuma dia saja, hilang satu tumbuh seribu. Tapi nurani yang lain berkata lagi ” apapun kepercayaan yang kamu anut, memutuskan silaturahmi dengan jalan baik saja tidak dibenarkan apalagi dengan jalan yang tidak baik. Suatu saat , memang sudah diatur Yang Kuasa, harus meminta bantuan orang yang sudah kita gusur tadi, malu sebenarnya, sangat malu, namun nurani lain berkata lai” ah sudahlah, tidak perlu dipikirkan masalah dulu itu, yang lebih penting sekarang kamu butuh dia, sudah baik baikin lagi saja, seolah tidak pernah ada masalah apapun” demi diri sendiri pula hal memalukan dilakukan juga, dimulai dengan sekedar say helo, berpura pura menanyakan keadaan, dan inti akhirnya ya minta bantuan”

Begitu besar cinta kita pada diri sendiri, melebihi cinta kita kepada pembuat diri kita, kita sanggup menganiaya Pencipta diri kita, bukan kan menganiaya ciptaan-Nya sama saja menganiaya DIA. Masih tersisa sedikit waktu untuk kita mengurangi kadar cinta kepada diri sendiri, cukuplah 30% saja, bagi 20% kepada saudara, tetangga, kerabat jauh dan umat lain, dan porsi terbesar cinta kepada Pencipta kita.

Tulisan ini aku buat untuk sekedar saling mengingatkan dalam diri kita, sdh banyak koraban yang berjatuhan demi cinta pada diri sendiri, mulai dari lapisan paling bawah hingga lapisan teratas, mulai dari pengemis dijalan sampai pemimpin dunia…dan tak akan berhenti hingga dunia berakhir berputar.

Selamat hari jumat temans, semoga kita senantiasa dapat menjaga tali silaturahim dengan baik . aamiin.

Iklan

Posted on 8 Maret 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. ..آمِينَ يَآاَللّهُ يَربَّ آلٌعَآلَمِيِنْ
    Menyambung silaturahmi niih.. :)
    Supaya selalu di sayang اَللّهُ

  2. Hai bunda apa kabar?
    hehe

    postingannya ngena bgt, gak sedikit org2 yg ada di dalam postingan bunda ini. :)

    • hai mell, alhamdulillah sehat, semoga sehat selalu juga ya. ya mell mencoba berkaca pada diri sendiri yg juga masih terkadang sangat mencintai diri sendiri melebihi apapun juga….

  3. Ass wrwb. Bu Desi Hartanto apa kbr? Terimaksh sdh berbagi dlm hasil tulisan, resep masakan & kue. Banyak pelajaran yg sy dpt dr sini. Sy bangga dan bahagia punya teman satu alumni (smp 1 Metro) jd ahli dlm memasak dan mau berbagi ilmu. Walaupun pertemananku blm dikonfir tak apalah,dpt membaca hasil karya bu Desi sy bahagia yg saat ini berada di pedalaman Kalteng. Terimaksh. Smg limpahan rahmat dan ridho Allah selalu tercurah utk kt semua. Sy tunggu hasil karya selanjutnya ya bu Desi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: