Cerita defidi : waktu biarkan emak sejenak…

Ada saat dimana kita sedang ingin diam, tidak melakukan apa-apa. Menikmati hidup seadanya, seikhlasnya, jalani hari hari sebagai istri dan ibu dari 2 anak. Hanya sekedar bangun subuh, siapkan sarapan, siapkan bekal. Saat mereka sudah pergi terasa sunyi tapi juga tidak melakukan apa-apa, nikmati kesendirian dengan nyaman. Lalu ke super market belanja sangat seperlunya, tidak ada keinginan untuk berinovasi seperti biasanya, bahkan keranjang diisi penuh dengan aneka camilan siap santap bukan bahan dasar untuk membuat aneka camilan seperti biasa dibeli. Yang ada dalam benak, malas untuk mengerjakannya, nanti malah terbuang. Sesegera mungkin kembali ke rumah, tidak juga ada yang dilakukan, bermain dengan kucing, ngobrol dengan kucing, karena nggak gitu hobi nonton tv meski puluhan canel tersedia, menjelang anak-anak pulang mulai masak, ini pun masakan yang sederhana tidak lagi masak penuh inspirasi seperti biasa yang menghasilkan aneka hidangan yang beragam. Saat anak-anak pulang disuguhkan susu dingin dan katakana, camilannya biscuit aja ya nak, ibu tidak buat apa-apa. Makan malam pun dilalui dengan masakan yang sederhana sebagai kewajiban harus makan malam, ya lauk satu sayur satu dan buah. Ayam goreng untuk anak-anak, dan ikan goreng u bapaknya + bening bayam, tanpa sambal-tanpa embel-embel lainnya.

Tidak mengerjakan aneka pesanan seperti biasanya, tidak mengirim sms ke teman menanyakan apakah mau pesan sesuatu, tidak menulis aneka status dif b atau blog, tidak juga mengomentari berbagai tulisan yang masuk. Bukan tidak semangat, semangat itu tetap ada dan menyala tapi ini seperti keinginan raga untuk terhenti sejenak dari rutinitas dunia, di dalam hati ini ingin berdiam dulu.

Hampir ¾ hidup sudah disisi dengan kerja, mulai SD aku sudah berniaga kecil-kecilan, ya jualan aneka perangko sampai ita pita mini untuk rambut. Lalu smp sejak ayahanda meninggal aku membantu mama masak untuk jualannya di sebuah kantin, ini aku jalani dengan sangat bahagia karena aneh rasanya bekerja sungguhan dimana selama ini untuk mengambil air minum saja cukup memanggil salah satu asisten rumah. Rasanya berharga sekali, disuruh ke pasar belanja banyak, dengan sederet tulisan tangan mama yg rapi penuh hitungan jumlah dan harga, terkadang tidak cukup satu becak, dan aku duduk terlihat terselip diantara tumpukan belanja dulu yang sebelum selesai belanja sempatkan diri sarapan mie ayam, atau bakso atau bubur.

Lalu saat sma sudah semakin berat pikiran dengan berbagai target dan rencana, aku suka buat perencanaan, berandai andai, lalu bisa ditungkan ke tulisan, bisa dituangkan ke puisi, ini yang membuat aku tidak terlalu suka keluar rumah, suara berisik diluar mengganggu angan-angan, belum lagi ocehan kosong yang membawa bara, yg akhirnya menjadi amarah sesame teman. Saat itu kan masa mencari jadi diri, mencari banyak perhatian dari segala sudut, mungkin jika kaca bisa diajak bersaksi berapa kali harus berputar putar untuk sekedar bertanya : aneh tidak saya hari ini, ada yg belum rapi dll pertanyaans eputar diri. Pekerjaaan yg dibebankan tidak saja pekerjaan rumah, mengatur membagian pekerjaan dengan adik-adik tapi juga menjadi teman curhat mama, tidak banyak yg bisa aku sarankan karena memang belum ada kemampuan untuk berdiskusi secara dewasa dengan segudang masalah yang muncul.

Lalu saat kuliah semester 3 sudah mulai bekerja, terus bekerja dan belajar, rutinitas yang dijalani sebagai mahasiswi dan pegawai kantoran, tidak ada pilihan dan memang sudha bersyukur menjadi terpilih, tidak banyak orang yang mendapat kesempatan untuk bekerja diusia muda belum mengantongi ijasah, dengan sifat yang pemalu, sulit untuk komunikasi secara cepat, namun ibukota sanggup mengubah itu dengan ketidakramahannya, dihari hari kerja aku juga berniaga pakaian di kantor, bagaimana mungkin menjual dengan diam, meski merah muka menawarkan atau merah mata saat ditolak, itulah awal proses jadi pedagang sesungguhnya.

Saat melangkah gerbang yg lebih jauh sebagai istri lalu dikarunia anak, masih tetap jadi pekerja, tidak pernah berhenti mengejar rupiah dengan sejuta angan, mesti banyak angan tidak tercapai tapi sudah melalui proses itu saja sudah cukuplah, bnyak yg tidak sempat mencicipi prose situ, sejalan dengan waktu, anak mulai besar dan adiknya akan datang, aku lelah naik turun bisa, naik turun kereta, pun naik mobil. Kuputuskan bekerja dirumahs aja dan mulailah berniaga kembali, mengejar rupiah demi rupiah yg entah berapa waktu terlewati. Sampai pada detik mama harus pergi, dan menjadi cermin bagaimana wanita mulia itu mengiringi anak-anaknya, berapa kali raganya terluka, terkeseleo, teriris, terjatuh, berapa banyak air matanya menetes, lalu raga merapuh, jantung sdh tidak kuat, aliran darah mulai cepat beputar karena ingin segera berhenti berputar supaya dapat istirahat, mata mulai lamur dan ingin katakana sudah saatnya aku istirahat melihat dunia ini.

Dalam diam aku katakan, mama tidak pernah istirahat, dunia begitu membuatnya sibuk, mengejar untuk tabungan hidup di dunia juga mengejar tabungan utuk di akhirat kelak…lalu aku katakana pada waktu karena jika aku katakana pada dunia akan muncul kata kata jangan sia sia kan waktumu. Tapi aku ingin sejenak istirahat, sebentar saja supaya raga ini bisa kembali bekerja, hati ini bisa kembali tertata, dan sekarang aku sedang istirahat sebagian dari dunia…waktu aku sementara menikmati dengan anak-anak, mengantar mereka ke tempat kursusnya, menungguinya hingga selesai, kadang aku buatkan makanan dari rumah saat dia keluar kursus sdh aku suguhkan. Mereka sdh mulai ke jenjang yg lebih tinggi, sulung tahun ini sma, bungsu tahun ini smp, sebentar lagi waktu akan lenyap untuk menciumi pipi mereka, menggelitik perut mereka, mengusap usap rambut kk, sesekali menggunting kuku mereka dan ingatkan dan mengantar kk u bercukur, menunggunya hingga selesai dan mengingatkannya membereskan tempat tidurnya yg selalu penuh buku. Juga dengan adik, membangunkannya dengan nada sangat rendah sampai hampir meninggi, menungguinya hingga selesai pakai baju terkadang minta tolong kancingnya di lekatkan, menyisir rambutnya dan mengikatnya tinggi supaya tidak keluar dari jilbabnya, menungguinya mereka berdua sarapan sambil mengingatkan u dihabiskan dan mengantarkan ke mobil jemputan sekolah sambil berpesan belajar yg baik ya nak, dengarkan guru, dan doa semoga dimudahkan oleh allah dalam menimba ilmu, mendapatkan ilmu yg bermanfaat kelak. Berpesan kepada sulung u hati hati dijalan, hati2 bertemu banyak orang tidak semua berniat baik .

Waktu biarkan sejenak emak ini nikmati masa istirahat ini…tidak lama….

Iklan

Posted on 12 April 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: