cerita pagi : martabat atau martabak, kasihan anak anak kita

bukan hal mudah untuk bisa bermental baja, perlu latihan khusus, gitu kata banyak orang. Bahkan proses kehidupan dari usia diri sangat berpengaruh dengan mental baja tadi. Anak-anak yang cenderung pola asuh sangat dilindungi oleh orang tua dan lingkungannya akan sulit mempunyai mental baja ini, setiap langkahnya ada yang mempermudah.

Ada beberapa cerita yang pernah aku dengar (semoga tidak salah, tidak melebihkan atau menguranginya).

seorang anak yang sama sekali tidak patut untuk di contoh: sering tidak masuk sekolah, sering tidak menyelesaikan tugas-tugas dan saat ulangan tidak dapat menjawab dengan baik, namun tetap naik kelas dengan nilai baik.  Lalu mereka tidak lulus ujian masuk sekolah yang diinginkan, entah dari mana jalannya, merangkak, berlari atau melayang, tiba-tiba saat sekolah dimulai anak tersebut sudah duduk manis disalah satu kelas.

Anak-anak yang seperti ini banyak sekali. Mereka bisa mendapatkan kemudahan karena orang tuanya. Saat menyaksikan hal ini kita geram, tapi sebenarnya kisah sedih dibalik itu semua. Saat kecil mungkin saja sang anak merasa bahagia dengans emua perlakuan khusus yang dia terima, belum ada rasa jika banyak kebohongan dalam hidupnya yang terpaksa dia telan demi menjaga martabat keluarganya, entah martabat yang seperti apa.

Namun waktu bergulir dengan cepat, sang anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, lalu mental yang tumbuh pun layaknya sebatang lidi, serapuh kerupuk. Tidak sanggup melewati masa-masa sulit sendiri karena selama ini selalu terbantu dengan adanya orang lain. Dan untuk mengubah mental seperti ini yang sudah berakar tidak semudah membalik telapak tangan. Type seperti ini pernah aku temui di lokasi kerja, setiap kali mendapat masalah bukan terpikirkan bagaimana menyelesaikan masalah itu tapi mencari orang lain untuk menyelesaikannya bahkan memakai tangan ke 3, ke 4 dan ilmu yang tidak masuk logika, katanya ke orang pintar.

Masalah yang satu memang nampaknya terselesaikan tapi muncul masalah lain yang lebih berat, pada satu titik sudah tidak dapat diuraikan lagi, klimaksnya masuk rumah sakit jiwa atau menjadi manusia yang tidak bermanfaat. Ke kantor hanya sekedar datang menunggu di pecat untuk mendapatkan penggantian. Dan yang lebih mengerikan pola ini diturunkan kepada anak-anaknya yang kelak kepada cucu cucunya.

semoga tulisan pagi ini bermanfaat untuk kita mulai perbaikan membentuk keluarga kita.

Posted on 10 Juli 2012, in anak, Cerita Anak, Cerita-cerita, Komunitas, Pendidikan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Saya termasuk yang punya temen kayak gini bun. Namanya ada dilist yang diterima masuk SMA pun ga, ga daftar sama sekali lebih tepatnya. Apalagi ikutan ospek. Eh giliran hari pertama masuk kelas, dia tinggal milih mau masuk kelas yang mana –a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: