Efisiensi menghadapi kenaikan bahan-bahan penunjang dapur emak

Kembali kenaikan harga bahan pokok kita alami sekarang, bahkan tidak hanya bahan pokok, sayur mayur dan pendukungnya pun mengalami kenaikan, apa penyebabnya kitapun tidak mengetahui pasti, dan hal seperti ini seringkali terjadi.

Yang pertama kali di lakukan untuk masyarakat menengah ke bawah adalah mengeluh, dan itu sangat manusiawi, budget yang telah ditentukan tidak bisa lagi mengcover kehidupan sehari-hari, jika prosentase kenaikan itu maksimal 5% mungkin tidak terlalu dirasakan tapi jika sudah mencapai angka 50 bahkan 100% akan sangat memberatkan.

Jika bahan yang tidak umum dikonsumsi mengalami kenaikan  bukan masalah besar, kecuali bagi sebagian masyarakat yang memang menggunakannya setiap hari, seperti keju, mayones, aneka bumbu siap pakai.

Namun ikhtiar tetaplah harus kita lakukan untuk bisa meringankan beban atas efek samping kenaikan bahan-bahan penunjang kehidupan ini. Kita coba dari efisiensi dari berbagai hal, mariii

Bumbu dasar masakan umumnya : bawang putih, bawang merah, dan rempah rempah (jahe, kunyit, sereh, laos, kemiri). Beli bumbu dasar ini dalam jumlah yg cukup banyak misal masing-masing ½ kg. Kita bersihkan dan kita haluskan. Kemudian kita panaskan supaya tidak mudah rusak, bisa dengan menumisnya atau mengukusnya. Lalu kita masukkan plastik kecil-kecil dan kita simpan di kulkas, pada saat akan dipakai kita tinggal mengambil bungkusna kecil ini.

Belanja bahan sayur untuk 1minggu : sebaiknya buat menu mingguan dan kita tempel di dinding dapur , jadi pada saat kita ke pasar belanja untuk satu minggu, misal : sayur asam, lodeh, beningan, sop, tumisan.

Ada beberapa bahan yang dipakai untuk semua sayuran itu misal, wortel bisa dipakai di bening, sup, lodeh, tumisan bahkan sayur asam, bahan-bahan seperti ini kita beli dalam jumlah yg cukup banyak, lalu dibersihkan dan dikelompokkan sesuai menu yg akan dipakai, sebaiknya dimasukkan ke plastik untuk memudahkan kita mengambilnya.

Belanja lauk pauk : kita sesuaikan juga dengan menunya, misal ikan goreng, ayam goreng, tempe dan tahu, empal, bakso ikan dan daging. Kita ambil bumbu dasar kuning, bumbu ini bisa untuk ikan goreng. Lalu buat ayam ungkep, sisa bumbu ayam ungkep bisa kita tambahkan santan untuk membuat lauk kare tempe atau tahu.

Saat kita akan membuat empal, air kaldunya bisa kita ambil dan kita simpan diplastik untuk dibekukan, dan dapat digunakan saat kita akan membuat sup sayuran.

Beras. Kadang kita tidak terpikirkan efisiensi pada beras, padahal sering sekali ini membuang nasi yang kita anggap sdh tidak layak konsumsi, ini karena kita memasak nasi terlalu banyak untuk waktu yang kurang tepat. Jadi sebaiknya masak nasi untuk makan siang secukupnya saja, lalu masak nasi untuk makan malam lebih banyak karena akan kita gunakan untuk sarapan juga. Biasanya kita tidak punya cukup waktu jika pagi-pagi baru menanak nasi. Dan nasi yang kita masak malam bisa dibuat sarapan, seperti nasi goreng, atau bubur nasi.

Semoga catatan ringan pagi in ibis ameringankan beban emak didapur, selamat berjuang mak..

 

Posted on 6 Juli 2012, in Aneka Tips, Bisnis boga, Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas, Makanan Tradisional, Masakan Rumah, Sosial, wirausaha. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Jadi inget gimana orang tua sempat membuat bakwan dari mie yang ga habis dimakan :9

    • ya kang , orang tua selalu berfikir bagaamana mensiasati setiap waktu untuk bisa mencukupi sebutuhan keluarganya, itu yang akan kita rasakan saat kita menjadi orang tua..naluri keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: