elangku kepakkan sayapmu lebih tinggi lagi

dua buah hati kami diberi nama yang penggalan namanya berarti elang, berharap mereka tumbuh layaknya burung elang yang gagah berani, terbang tinggi menggapai cita-cita.

Setiap pendidikan yang diberikan oleh orang tua maupun yang diterima oleh anak adalah sebuah proses, hasilnya kelak bukanlah target utama namun perjalanan melalui proses demi proses itu yang lebih penting.

Sebagai seorang emak dengan mengasuh satu putra dan satu putri terasa perbedaannya dan proses yang merela lakukan pun berbeda, namun karena hal itulah menjadikan hari demi hari semakin ingin mendampingi mereka.Jika ditanyakan tahap mana seorang anak sangat perlu didampingi, menurut aku sampai hayat dikandung badan, karena pada dasarnya manusia itu membutuhkan orang lain disampingnya, saat mereka masih dalam kandungan mereka butyh ayah dan ibunya, begitu juga saat lahir, batita, balita, remaja, dewasa, tua dan mati.

Dari fase satu ke fase berikutnya sangat menentukan hasilnya, jika saat batita kita dampingi dengan maksimal maka balitanya akan mudah kita hadapi, demikian pula jika balitanya kita dampingi dengan maksimal maka masa remaja akan mudah kita mengarahkannya, saat remaja kita dampingi dengan maksimal maka masa dewasanya tetap kita dapat menajdi teman mereka + ditambah suami atau istri mereka.

Yang di pentingkan oleh seorang anak adalah jadilah guru kami untuk memberikan semua ilmu yang bermanfaat, jadilah teman kami yang bisa bermain bersama kami, jadilah asisten kami yang bisa kami suruh untuk melakukan sesuatu yang dapat membantu kami, dan bisa kita nikmati hasilnya.

Kita akan mendapatkan seorang anak, kita akan mendapatkan seorang teman, kita akan mendapatkan seorang asisten.

Aku coba untuk menerapkan hal itu, anakku sulung punya karakter yang keras, namun sangat mudah untuk diajak diskusi, komunikasi sangat penting untuk menghadapi anak dengan karakter keras, jika kita dapat saling mengerti keinginan masing-masing maka konflik akan sangat kecil terjadi, namun sebaliknya juga demikian.

Masa batita dilalui dengan standar saja karena akupun memberikan proses standar untuk dia layaknya seorang anak, yang mungkin agak berlebihan aku berikan perhatian adalah asupan gizinya

Menginjak balita dan mulai mengenal dunia sekolah tetap kondisi standar aku berikan, aku belum sanggup untuk mengirim dia ke berbagai sanggar atau kursus seperti sebagian teman-temannya, aku pikir ini masa bermain dia, aku tidak ingin dia terbebani dengan berbagai keinginan orang tuanya.

Memasuki masa sekolah dasar, aku tetap menjalankannya dengan standar juga, dimana berbagai kursus semakin banyak diberikan orang tuanya kepada anak-anaknya.

Namun menjelang akhir sekolah dasar kami mulai memotivasi dia karena mau tidak mau ini harus kami lakukan mengingat persaingan untuk masuk ke sekolah yang terbaik dikota kami harus bersaing ketat, namun bukan berarti memaksakan kehendak, kami tanyakan kepada anaknya apakah dia bersedia belajar lagi diluar jam sekolahnya khusus untuk mempersiapkan ujian nasional.

Anggukan ini baru kami terima 4 bulan menjelang ujian nasional dan alhamdulillah anggukan ini disertai dengan tanggung jawab yang cukup besar dari anak.

aku dan anak saling membuat komitmen, aku akan mengurangi kegiatan untuk bisa dampingi hari harinya dan dia akan serius untuk belajar menghadapi Ujian Nasional.

Alhamdulillah hasil ujian nasional yang dia dapatkan  baik walaupun bukan yang terbaik dan hasil tes di sekolah yang katanya terbaik  dikota kami melebihi cukup banyak dari batas yang ditentukan dan dapat diterima sesuai standar sekolah tanpa kami memberikan tambahan lain satu rupiahpun.

Memasuki masa remaja, dengan karakter yang keras itu bukan hal mudah untuk dipahami namun kebersamaan selama ini membuat aku dapat mengerti mana hal yang dia inginkan dan hal yang tidak dia inginkan. Seminimal mungkin kami menjauhi konflik, jika ada itupun dapat segera cair dalam hitungan jam saja.

Masa masa yang katanya kritis ini kembali kami berusaha mengarahkan saja , justru tuntutan untuk mengikuti aneka kursus datang dari anak sendiri, dalam arti dia sudah mulai mengukur kemampuannya dan mempunyai motivasi untuk bisa lebih baik lagi.

Sejujurnya , secara akademik setingkat anak smp sekarang aku sebagai emaknya  cukup kedodoran dengan materi terutama yang berbasis internasional, menggunakan bahasa inggris, dan aku katakan itu dengan anakku, aku tidak ingin menjadi orang tua super yang merasa selalu lebih pandai dari anak.

Begitupun kegiatan eskul yang dia ikuti atas pilihannya sendiri, walapun sebelumnya dia  meminta pendapat kami. Atas pilihannya itu dia jalani dengan penuh tanggung jawab juga.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dia mampu ke pasar mencari perlengkapan pramukanya bahkan pergi ke tukang jahit sendiri untuk kelengkapan berbagai ornamen di baju pramukanya.

Namun sifat anak-anak dan remaja masih kadang bercampur, di tengah pasar menunggu tukang jahit mengerjakan jahitannya, anakku mengirimkan sms jika dia minta izin untuk membeli es kelapa, ada rasa lucu dan terharu aku menerima sms itu, simple namun dalam hati penghargaan yang begitu tinggi dia berikan ke aku dengan meminta izinnya itu.

Kemarin dia diutus oleh sekolahnya untuk mengikuti lomba semaphore bersama team pramukanya.

Saat kami bertemu dan menanyakan hasilnya, dengan datar dia menjawab, menang bu, dapat emas dan team kami jadi juara umum.

Ada rasa kaget namun bangga terselip bukan saja dengan emas yg dia terima, namun nada datar mengabarkan bahwa kemenangannya itu adalah hal yang biasa saja bukan hal yang harus dia sombongkan atau dia berteriak-teriak atas kemenangan itu.

Elangku sayang, harapan kami semua terbanglah lebih tinggi namun tetap jaga sayapmu untuk tidak menjadi sombong, diatas langit masih ada langit, diatas ketinggian engkau terbang masih ada yang lebih tinggi lagi terbangnya.

Pesan bapak elang : jadikan kemenangan hal biasa.

 

Posted on 30 April 2012, in Aneka Tips, Blogor, Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas, lingkungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: