Kepuasan itu baiknya berbanding lurus dengan hati yang bening

Menjadi pemimpin itu sudah dijalani sejak kecil, mulai dari sekumpulan anak-anak saja, kemudian di organisasi sekolah, lanjut ke organisasi masyarakat dan juga dalam pergaulan sehari-hari.

Menelan protes itu sudah menjadi makanan sehari-hari tetapi kenapa belum bisa juga menerimanya dengan ikhlas, mencoba untuk merenung???? kata kata menghibur banyak sekali masuk, di protes itu artinya kita orang penting, di protes itu karena yang memberikan protes merasa tidak puas, dan selama masih berjudul manusia tidak puas itu adalah sifat yang sangat manusiawi.

kalo tidak mau mendapat protes ya jangan jadi pemimpin, tinggal bagaimana kita dapat meminimalis protes itu, apakah perlu di selesaikan sampai detail atau cukup diberikan info sesuai yang mereka mau, atau bahkan diabaikan saja.

Sifat dasar yang selalu ingin menyelesaikan masalah sampai tuntas ternyata kadang tidak dapat digunakan, kenapa??? karena tingkat penerimaan setiap manusia berbeda.

untuk satu manusia cukup diberikan sedikit keterangan, selesai. Ada manusia lain sudah diberi berbagai penjelasan masih belum mengerti dan terus mencari jawaban itu, kalo tidak didapat dan tidak merasa puas dia akan mencari pasukan supaya dapat menghimpun kekuatan dan mencari jawaban yang tadi belum merasakan kepuasan.

dan untuk satu manusia lainnya dia memberikan protes sebenarnya hanya sekedar ikutan, dalam arti jika dijawab yang syukur jika tidak pun yang tidak masalah, tidak ada target apapun dalam protes itu.

ketiganya memang sangat mengganggu hati, dianggap pemimpin yang tidak berhasil itu sakit, tapi jika kita kembalikan kepada alam semesta ini, mungkin salah satu dari penyeimbangan kehidupan, karena kalo semua setuju setuju saja pada satu keputusan maka selesailah dunia ini.

Tidak ada perdebatan, tidak ada adu argumentasi  hingga ke perang.

Namun yang sangat disayangkan bahkan harus dikasihani jika diri kita merupakan pemicu sebuah keributan, pemicu sebuah pertikaian, sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan. Sebuah bibir mungil nan indah saat melontarkan kalimat demi kalimat yang sifatnya sebagai pemicu sebuah arguentasi yang kelak akan diterjemahkan oleh banyak orang dan akhirnya menjadikan sebuah kesimpulan yang salah.

Lalu dengan ringannya mengucapkan maaf lahir dan bathin, apakah dua kalimat itu mampu membersihkan kalimat kalimat panjang yang sudah dilontarkan ke banyak orang, lalu apakah cukup kalimat itu untuk mewakili sakit hati yang dirasakan , kemudian dengan sederhananya kalimat lain bermunculan cukup dengan kalimat : yang saya dengar seperti itu lohhh, padahal kalimat utama tidaklah seperti itu. Kalimat sederhana yang tidak mengandung makna yang dalam, menjadi kalimat yang bermaksa sangat dalam, bahkan menghasilkan ironi dan sarkasme pada akhirnya.

Lalu apa jembatan yang sanggup untuk menghentikan semua itu??? kita lihat bagaimana sesama manusia, sesama agama, saling begitu membenci, saling mencaci maki, dengan tujuan yang sebenarnya tidak ada, hanya merasa puas saja jika kalimat kalimat yang dilontarkan itu sanggup membuat suatu keributan.

Ini virus yang obatnya berat karena harus dikembalikan kepada kebeningan hati, bagaimana hati mampu menjaga diri sendiri dari kalimat kalimat yang mengerikan tadi. kenapa mesti diri sendiri, karena diri sendiri inilah yang akan membawa diri diri lain untuk masuk dalam satu rangkaian cerita berantai yang tidak ada pertanggungjawabannya sementara yang menjadi korban sudah sangat sekarat.

Duhai saudaraku, tidak mudah membeningkan hati kita dengan hal hal yang membawa kebaikan pada orang lain, karena pada dasarnya kita tidak suka banyak kebaikan pada orang lain, mahluk bernama iri itu tidak suka kita saling mengasihi karena tidka ada tempat baginya untuk berkembang biak dengan baik.

 

 

 

 

Iklan

Posted on 13 April 2012, in Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas, lingkungan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Keren banget nih bu….., sesuai banget sama situasi aku nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: