Keamanan Pangan dan Pola Konsumsi Anak

Keamanan Pangan dan Pola Konsumsi Anak

Dibutuhkan komitmen bersama lintas sektor untuk mewujudkan keamanan pangan dan pola konsumsi sehat bagi anak-anak Indonesia

Jakarta, 5 Oktober 2011 – Kompleksitas pemberian gizi pada anak dan kepastian keamanan pangan yang dikonsumsi anak-anak senantiasa menjadi sorotan berbagai pihak mulai dari orang tua, guru, pakar kesehatan anak serta institusi pemerintah terkait. Guna mewujudkan komitmen bersama lintas sektor dalam menjaga keamanan pangan dan menciptakan pola konsumsi sehat bagi anak-anak Indonesia, Fonterra Brands Indonesia hari ini mengadakan diskusi ilmiah bertema ‘Keamanan Pangan dan Pola Konsumsi Anak’.

Diskusi ilmiah menghadirkan Dr. Ir. Roy Sparingga, M.App,Sc, Deputy III, BPOM, Prof Dr. Ir. Hardinsyah, MS, IPB, Drs. Suratmono MP, Direktur Inspeksi & Sertifikasi Pangan BPOM, dokter spesialis anak DR. Dr. Hartono Gunardi Sp A(K) dan moderator DR. Dr. Luciana B. Sutanto, MS, SPGK.

Adapun latar belakang diadakannya diskusi ilmiah ini adalah memberikan wadah bagi berbagai pihak yang memiliki pengaruh besar bagi terwujudnya kesehatan menyeluruh anak Indonesia, untuk bersama bertukar pikiran dan menghasilkan suatu rekomendasi yang akan diajukan kepada pemerintah terkait regulasi pangan anak. Regulasi pemerintah dinilai penting agar seluruh lini bergerak ke arah acuan yang sama, dengan demikian berbagai konflik kepentingan dapat pula dihindari semaksimal mungkin.

Roy Sparingga menjelaskan bahwa strategi manajemen risiko yang tepat harus diterapkan dalam rangka mewujudkan dan menjaga keamanan, mutu, dan gizi pangan yang dikonsumsi oleh anak-anak pada khususnya maupun kita semua pada umumnya. Peran serta orang-orang terdekat, seperti ibu dan anggota keluarga lainnya, masyarakat sekolah, produsen pangan, elemen masyarakat lainnya, hingga Pemerintah harus diperkuat untuk mencapai tujuan tersebut.

Untuk menjamin keamanan pangan yang dikonsumsi anak, terutama Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), Pada tanggal 31 Januari 2011 Bapak Wakil Presiden RI telah mencanangkan ‘Gerakan Menuju Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu, dan Bergizi’. Gerakan nasional ini merupakan upaya untuk meningkatkan PJAS yang aman, bermutu dan bergizi melalui pemberdayaan komunitas sekolah.

Sebagai institusi yang berfungsi menegakkan regulasi, pengaturan dan standardisasi, dalam hal ini terhadap pangan untuk anak-anak, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan berbagai kegiatan, utamanya sosialisasi keamanan pangan jajanan anak sekolah. Hingga kini, sosialisasi dan pengawasan terhadap jajanan sekolah telah dilakukan oleh BPOM secara berkala hingga ke seluruh wilayah Indonesia. “Empat masalah utama keamanan pangan jajanan anak sekolah hingga saat ini adalah cemaran mikroba karena kondisi higiene dan sanitasi buruk, kedua cemaran kimia karena kondisi lingkungan yang tercemar limbah industri, ketiga penyalahgunaan bahan berbahaya yang dilarang untuk pangan seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil, keempat penggunaan BTP melebihi batas maksimal yang diijinkan.” demikian papar Suratmono.

Mencermati status gizi anak Indonesia, hal ini menghadirkan dilema tersendiri akan dua potret kesehatan anak: malnutrisi dan di saat yang bersamaan kelebihan gizi yang menyebabkan obesitas. Dengan pola konsumsi anak yang terbentuk dari gaya hidup masa kini, mengharuskan masyarakat agar sanggup memahami dan mencermati asupan gizi pada anak mereka. Peran berbagai pihak mulai dari pakar kesehatan anak, institusi pemerintah, produsen pangan anak, dan masyarakat itu sendiri sangat dibutuhkan agar komitmen untuk menyediakan asupan yang sehat dan tepat bagi anak Indonesia dapat semakin kuat dan terlaksana baik.

Data Riskesdas (2010) status gizi dan konsumsi gizi anak Indonesia masih bermasalah. Sekitar sepertiga anak masih mengalami status gizi pendek (termasuk sangat pendek) dan seperenam anak balita masih mengalami gizi kurang (termasuk gizi buruk). Sepertiga anak balita tidak menenuhi kebutuhan energi minimal yang dibutuhkan, dan seperlima balita tidak memenuhi kebutuhan protein minimal. Rata-rata pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral anak 10-12 tahun pada umummnya dibawah 65%. Namun sebagian anak mengkonsumsi telah melebihi kebutuhannya.

Hardinsyah menjelaskan, meski telah banyak upaya perbaikan gizi dilakukan, khususnya perbaikan gizi kurang pada anak, tetapi masalah gizi anak di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, dan menunjukkan kesenjangan yang tinggi antar daerah dan golongan ekonomi keluarga. Isu masalah gizi saat ini adalah paradoks gizi (nutrition paradoks), dimana dalam suatu keluarga terdapat anak mengalami masalah kekurangan gizi dan orang dewasa yang mengalami masalah kelebihan gizi (kegemukan), atau sebaliknya. Selain itu sementara sekelompok masyarakat menderita kekurangan gizi sekelompok masyarakat lainnya mengalami kelebihan gizi (kegemukan) yang berisko pada berbagai penyakit kronik degeneratif seperti diabetes, jantung koroner dll.

Rendahnya konsumsi atau asupan vitamin dan mineral pertanda bahwa konsumsi pangan hewani (daging, ikan, susu dan telur), buah dan sayur anak Indonesia belum memadai. Sementara anak yang gemuk mengalami kelebihan lemak dan karbohidrat termasuk dari gula tambahan baik melalui makanan maupun minuman. Hal ini memerlukan pendekatan yang lebih kreatif dan inovatif dibanding pendekatan masa lalu yang fokus hanya mengatasi masalah kekurangan gizi. Untuk ini kerjasama yang lebih solid antara berbagai pihak – pemerintah, swasta dan organisasi profesi dan pemberdayaan masyarakat – untuk mengatasi paradok gizi ini sangat diperlukan.

Hartono Gunardi menambahkan bahwa usia 1-12 tahun merupakan usia pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kognitif yang besar. Saat usia sekolah anak tidak sepenuhnya bergantung pada orang tua, mereka mulai memilih makanan sendiri dan dipengaruhi oleh lingkungan sekolahnya. “Karena itu orang tua dan guru mempunyai peranan dalam membina pola makan yang baik bagi anak. Usia ini merupakan perkembangan kognitif yang meliputi perkembangan memori, pemikiran kritis, kreativitas dan bahasa. Pada masa ini gizi anak harus terpenuhi agar pekembangan kognitifnya tidak terhambat. Pola makan gizi seimbang, sarapan pagi, menghindari jajanan yang tidak sehat dan perlu diwaspadai kekurangan zat besi yang dapat menimbulkan anemia dan mengganggu tumbuh kembang pada usia ini.

Salah satu kendala yang terjadi saat ini adalah belum adanya regulasi pemerintah akan takaran gizi sumber pangan anak. Sementara acuan dari badan-badan besar seperti World Health Organization telah ditetapkan, namun tentu saja, tanpa dukungan dan ketegasan dari pemerintah, acuan ini hanya akan menyentuh sebagian kecil masyarakat.
Diskusi ilmiah ini merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dari Nutrition Day Fonterra Brands Indonesia. Pada Nutrition Day tahun ini, terdapat tiga kegiatan yang kami laksanakan. Pertama, penyediaan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi seluruh karyawan, antara lain pemeriksaan kepadatan tulang (bone scan), gula darah, dan indeks massa tubuh. Kedua,sesi knowledge sharing terkait gaya hidup dan pola makan sehat, termasuk tips penyajian variasi makanan untuk menu sehat di rumah. Ketiga, Diskusi Ilmiah yang kali ini bertema “Keamanan Pangan dan Pola Konsumsi Anak.
“Semoga kegiatan ini dapat membantu karyawan Fonterra untuk menyelami arti penting pemenuhan nutrisi bagi diri dan keluarganya, sebagai langkah preventif kesehatan. Kami pun berterima kasih atas kehadiran para narasumber pada Diskusi Ilmiah dimana sumbangan ide, saran, dan pemikiran bersama dapat terangkum dalam satu rekomendasi demi kesehatan anak Indonesia yang lebih baik.” tutup Yon Handoyo, President Director Fonterra Brands Indonesia.

Posted on 12 Oktober 2011, in Aneka Tips, Cerita Anak, Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas, lingkungan, Makanan Tradisional, Masakan Rumah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: