pulang kamfung part 1

persiapan sudah jauh hari, semakin dekat rencana berubah ubah, dapat informasi jalan utama menuju kamfung rusak berat, mobil antri dengan system buka tutup di jam jam tertentu, layaknya di puncak saja. berbekal infomasi dari saudara yg berangkat duluan bahwa jalan macet namun tdk parah, memutuskan untuk tidak membawa kendaraan pribadi, naik umum saja, sampai disana minta jemput saudara atau rental mobil….

cukup malam berangkat, jam menunjukkan pukul 8 dari bogor…sampai di ibukota seperti yg sudah sudah macet, namun agak parah kali ini untuk waktu yg sdh agak malam….bus bergerak perlahan dan jam 11 sampai di Merak…

dapat kapal besar namun fasilitas penumpang minim, yg VIP gaya lesehan dan namanya gayalesehan yang meleseh nggak perduli ornag lain, standarnya duduk tapi kebanyakan posisi tidur terlentang, alhasil banyak yg tidak dapat tempat…

ikut meleseh, pesan teh manis panas…mata cukup berat tapi tdk bisa terpejam, suara dengkur tetangga demikian hebohhh, mo facebook-kan tdk ada sinyal…mencoba keluar dari ruang lesehan, wadowww gelombang cukup membuat terhuyun huyun dan angin kencang….

terasa lambat sekali kapal berlayar, ditengah jalan sempat berhenti nampaknya karena gelombang cukup tinggi….akhirnya merapat juga sekitar jam 2 lebih sedikit.

bus bergerak turun perlahan, mata pun mulai bergerak turun perlahan, rasanya tertidur cukup lama saat bangun sudah pagi dan bingung lihat posisi, kiri kanan pohon jati dan o lalalalal mobil dalam keadaan diam tak bergerak, mata memandang ke segala arah, mobil antrian saja yg tampak.

ada apa ini? bertanya dengan supir dan turun dari bis, ternyata rute bis dan mobil besar lainnya berubah dialihkan ke jalan alternatif yang ternyata rusak parah juga.

menunggu 2 jam tanpa kepastian, akhirnya pilihan jatuh kepada alternatif lain, naik ojek sampai ke jalan besar,GAYAM tempatnya, dari sana katanya banyak travel or bis yg menuju ke kota.

dengan motor ala kadarnya, berjalan perlahan kondisi jalan tdk menungkinkan untuk berjalan kencang.

sudah hampir 30 menit berjlaan saat ditayangan pak ojek bernama sukarte (asli Bali) bilang masih 10 km lagi, haahhhhhhhhh!!!! baru berjalan 2 km saja pinggang sdh berkretek…kondisi jalan layak untuk off road.

Diputuskan menikmati jalan saja, sambing ngobrol dengan pak sukarte, didapat informasi dia mempunya cukup luas kebun karet, satu istri, 2 anak, asli bali dan beragama hindu. Selain itu dia juga menjadi pengumpul rumput laut untuk dikirim ke surabaya, dalam 1 bulan bis amengirim 15 ton rumput laut kering dengan harga 10ribu per kg, sementara yg basah 3ribu per kg.

motor berhenti sebentar untuk isi bensi yg cukup banyak antri, rupanya banyak yg menjadi ojek dadakan termasuk pak sukarte ini. Dia bilang, bu sebenarnya saya ini dari antar istri ke pasar dan harusnya sudha jemput lagi, bisa pinjam HP mau telpon istri untuk nunggu dulu..walahhh ya silahkan pak ditelpon istrinya, kasihan dia nunggu lama…

perjalanan diteruskan, pemandangan yg indah telintas depan mata, ada satu kampung khusus Bali dengan pura cantik berwarna hampir merah semua, kebun karet terbentang cukup luas, bukit barisan terhampar depan mata.

hampir satu jam sampailah di jalan besar, dengan ongkos 50 ribu pak sukarte kembali ke pasar untuk jemput istrinya dan aku menunggu travel. wow wow wow  yg menunggu travel ternyata sudah banyak..satu lewat menyusul dua lewat selalu penuh, rasanya nggak cocok juga menunggu seperti ini sementara agenda padat sekali.

perut sudah minta jatah pagi, menoleh ke kanan ada Alfa Mart, wah alhamdulillah lumayan paling tidak bisa beli minum dan biskuit. Pilihan jatuh ke susu bear brand yg malt dengn rasa green tea dan sebungkus soes kering, berjalan keluar alfa ada rumah makan asli Lampung info tukang ojek.

warung nasi yg sederhana, cukup luas, cukup bersih dan sang pemilik sednag menggoreng udang tepung, aroma bumbu kuning sebagai cmapuran tepungnya + udang, membuat wanginya menyeruak keluar dan membuat lapar…minta nasi dan disuguhkan pula semangkuk sayur asem ( yg rasanya asins ekali) dan lalaban timun dengan julang jaling dan sambal.

julang jaling masih terbungkus rapi dalam kulitnya, tanpa menunggu pinjaman pisau, langsung dibuka dengan alat alami, sarapanyg sangat spesial dengan menu sederhana itu, udang goreng tepung yg baru diangkat, crispy dan gurih.

Kira kira satu jam di warung itu, kakak datang menjemput dan diputuskan langsung menuju pantai Muttun, begitu sampai pantai yg airnya jernih sekali, cukup bersih, berada di balik sebuah pulau (pulau tangkil namanya) penat diperjalanan ajaib tadi 70% hilang..

mulai dengan petualangan dipantai, lanjutannya di part yg ke-2 ya..

Posted on 1 Desember 2010, in Aneka Tips, Cerita-cerita, jalan-jalan, Keluarga, lingkungan, Makanan Tradisional, Masakan Rumah, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: