Mereka Anugerah Terindah Dalam Hidup Ini

Cerita lanjutan untuk chain posting kegiatan bloger bogor…

Saat anak anak sudah terlelap, aku menuju buku buku sekolah mereka, aku buka satu persatu, tugas tugas harian mereka disekolah ternyata banyak sekali, berat niat kewajiabnmu nak. Tidak saja harus diselesaikan tugas itu namun diwajibkan mendapatkan nilai terbaik.

Bukan tuntutan namun hanya itu yang membuat bisa bersaing  dengan kehidupan yang keras di luar, hanya ada dua pilihan memang sudah kaya turun temurun atau pintar sekali, jika tidak kaya ya harus pintar, jika dibatas sedang sedang saja maka kemungkinan untuk bisa berhasil kecil sekali karena yang sedang sedang diluar sana juga menumpuk, harus ada yang special…

Sambil menutup buku itu satu persatu aku duduk di kursi dan termenung mencoba mencari cara bagaimana membuat anak anak aku bisa berhasil melawan kerasnya kehidupan diluar sana namun mereka tidak merasa bahwa itu beban atau ambisi orang tuanya saja.

Ingatan kembali ke masa silam, dimana cara ayahanda mendidik anaknya dengan keras membuat kami bisa bertahan dan sanggup melawan kerasnya persaingan diluar dan bisa keluar sebagai juara.

Pola ayahanda mendidik kami , aku coba terapkan kepada anak anak. Anak yang sulung harus bisa memberikan contoh yang baik kepada adiknya, harus bisa menjadi senderan adik adiknya, begitu pula anak yg ke 2 harus bisa pula menjadi contoh yang baik untuk adiknya dan seterusnya.

Ya tapi namanya anak-anak dengan sifat yang berbeda, terkadang aku dibuatnya tertawa dengan tingkah pola mereka. Si sulung ada kalanya sedang tidak ingin membantu adiknya dalam mengerjakan PR sekolah namun pintar dia berkilah…dia tantang adiknya dengan kalimat  yang membuat adiknya merasa tertantang sehingga dapat mengerjakan PR tanpa bantuan dia, dan diberi pujian setelah itu…sayangnya adiknya belum bisa membaca metode kakaknya berkilah ini…dia masih dengan setia membantu adiknya untuk menyelesaikan PR disekolah…si sulung memang terlihat makin dewasa, makin mempunyai banyak kegiatan dan waktunya juga makin sempit untuk mendampingi adikknya.

Teringat kembali gelegar suara ayah saat menyuruh kami untuk belajar “ayooo segera sholat magrib, kita makan dan  seperti biasa, buku yang tadi dipelajari di sekolah jajarkan di meja, ayah akan periksa” suaranya yang keras namun berwibawa dan cenderung suka bercanda juga membuat kami patuh namun tidak merasa digurui.

Lucu ingat zaman itu, semua buku kami dijajarkan di meja sementara kami duduk rapi dan mulai menyiapkan papan tulis. Bergiliran diperiksa dan PR dikerjakan, jika ada yang tidak dimengerti dengan sabar ayah akan membimbing kami terutama pelajaran matematika, beliau pandai sekali menerangkan dengan cara cara yang simple, katanya cara Belanda….tidak heran nilai aku di kelas hampir selalu teratas, cara belajar yang continue dan penuh pendampingan seperti itu sangatlah indah…jika zaman ini rasanya tidak mungkin hal itu dihandle oleh seorang ayah, kalau pun bisa mungkin bisa dihitung dengan jari.

Ayah adalah seorang pegawai negeri sipil dimana jam 4 sore sudah ada dirumah, jadi sore hingga malam beliau dapat mendampingi kami, karena menurut ayah, bagian ibu adalah masak makanan yang bergizi supaya kami pintar…

Saat karier ayah makin menanjak, ayah semakin sibuk, namun beliau masih tetap mencari cara untuk tetap kami bisa belajar maksimal, saat itu rasanya masih cukup aneh memanggil guru private ke rumah, namun itulah yang beliau jalankan. Setiap kali selesai les, istilah zaman itu, ayah diskusi dengan guru sampai dimana pencapaian kami dan didapatlah grafik anak yang mana yang serius dan anak yang mana kurang serius mengikuti les itu…dan siap siap dipanggil untuk ditanya…

Yang unik dan sekarang menjadi tren metode belajar adalah system merangkum dengan mempergunakan simbol symbol sederhana sehingga hasil rangkuman itu begitu variasi namun enak untuk dipelajari , sekarang istilahnya mindmapping  ya…

Lamunan buyar saat denting jam mneunjukkan pukul 12…rasanya besok akan ke toko buku ingin mencari buku mindmapping itu…

———-

*/ Artikel dalam rangka Blogor Chain Posting, tema Kisah cinta di Bogor;

Iklan

Posted on 10 November 2010, in Aneka Tips, Blogroll, Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas and tagged , . Bookmark the permalink. 23 Komentar.

  1. jd mikirnya dari sekarang bu Desi,
    kira2 pak Hartanto mlanjutkannya gmn bu?
    minta bocorannya dong, deg-degan neh… :-)

  2. Semoga pak Hartanto bisa ngelanjutin xp

  3. weesss mantap bund! wah, kelompok lainnya belum berlanjut nih
    eh bund, tolong diawal dan akhir diberi link blog miftah dan blog pak hartanto… biar pembaca gampang membaca sebelum dan sesudahnya.

  4. Tokoh akunya berubah dari seorang mahasiswa ke seorang ibu..hihihi

  5. co cwiiit, tetap semangat Bunda ^^

  6. wah dah lanjut nih :)

    Bunda, maaf saya menggunakan nama bunda di tokoh postingan saya. kan cuma fiksi :)

  7. Bu Desi.. hebat dech.. ;)

  8. maaf, numpang nimbrung.. ^^

    sudut pandangnya berubah ya…. hhihi… tapi ini yang bikin seru…

    /*sekarang istilahnya mapmaping ya…*/
    mungkin maksudnya mindmapping ya bu? ^^

    salam kenal buat semuanya :)

  9. haha endingnya ga bisa diprediksi nih :D seruuu

  10. mindmapping menarik untuk belajar, setuju dengan cerita ini. lanjutkan ;-)

  1. Ping-balik: Saras, Sang Gadis Rumput (Bagian Dua) « Catatan Cinta Sang Sahaja

  2. Ping-balik: Chain Posting: Bermain Dalam Tulisan | blogor.org

  3. Ping-balik: Bercinta dengan cerdas « Catetan kecil httsan

  4. Ping-balik: Rumahku Surgaku « mA$ Fajar Bl0g

  5. Ping-balik: Cerita Fiksi dari Blogorian | blogor.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: