kebersamaan itu mesti mengalah dengan waktu

Dipercaya untuk menggawangi acara perpisahan kelas 6 di sekolah anakku suatu amanah  yg besar, rasa ingin mempersembahkan yang terbaik membawa langkah kaki ini untuk melangkah cepat. diawali dengan pembentukan panitia kecil yg terdiri dari ibu-ibu kelas 6, kemudian mulai membagi kelompok kerja, yg utama acara diserahkan ke guru sekolah karena dalam keseharian mereka lebih mengerti kondisi ketrampilan dan karakter anak-anak.

babak selanjutnya yg utama adalah biaya, dengan donasi dari orang tua, sekolah, juga mulai mencari sponsor…rasanya begitu ringan Sang Maha Pemberi menuntun, satu persatu sponsor mulai mendukung walaupun sebagian besar dalam bentuk barang, tetap sangat disyukuri. Mulai seragam panitia sampai hadiah yg lain diberikan oleh sponsor. Satu kegiatan yang sangat aku suka lakukan yg justru enggan dilakukan oleh sebagian orang adalah mencari sponsor, memang susah tapi mudah ( kebalik ya), namun dibalik itu manfaat yg diterima sangat besar, memulai jaringan kerjasama yang bisa untuk jangka pendek dan panjang untuk kegiatan selanjutnya .

setelah selesai  mencari dana, dan mulai menyebarkan dana itu untuk segala keperluan, mulai memesan gedung, pernak pernik gedung, pesan dekorasi, pesan catering, pesan snack, pesan photografer, siapkan berbagai acara untuk ditampilkan, memikirkan aneka hadiah.

kali ini penghargaan atas prestasi anak agak berbeda, dimulai dengan konsultasi dgn semua pihak, untuk mulai mewujudkan talenta anak, dimana setiap anak mempunyai keistimewaan masing-masing. Kita sudah terpaku dan memaku diri pada aturan yang sebenarnya dapat di ubah dengan cara kita sendiri, sebagai orang tua rasanya kita hanya terbebani oleh mata pelajaran yg akan di uji secara nasional saja, berburu segala macam cara itu bisa mendapatkan hasil yg baik untuk 3 mata pelajaran yg akan diuji nasional, seolah kehidupan anak-anak hanya diperuntukkan untuk mempelajari 3 ilmu itu saja, tanpa mau memahami banyak anak-anak yang suka dengan mata pelajaran yang lain.

Kalo dibilang, loh itu kanlevel  sd, nanti smp kan ditambah yg jadi ujian nasional. Jika kita mau mengkaji lebih dalam “menyukai sesuatu itu dimulai sejak dini, bagaimana mereka mau menyukai sesuatu yg lain jika mulai disodorkan atau setengah dipaksa sesuatu yang sdh ditetapkan”

untuk kali ini prestasi anak dimunculkan untuk semua mata pelajaran, dan non akademik. mulai dari nilai terbaik di bidang matematika, IPA, IPS, Agama Islam, Bahasa Inggris, bahasa sunda, bahasa arab, PLH, PKN,SBK,PJOK, dll sampai dengan yang non akademik seperti teman yang paling gembira, yang paling pendiam, yang paling baik hati,dsb.

Terlihat betapa bahagianya anak-anak yang selama ini merasa tidak punya prestasi secara global karena umumnya yg di sebutkan namanya hanya peringkat 1 dalam semua mata pelajaran. Mereka seakan ragu namun dengan wajah bersinar mereka melangkah ke panggung saat dipanggil sebagai terbaik dalam mata pelajaran : bahasa indonesia, terbaik bahasa sunda, terbaik bahasa arab, terbaik PJOK dan mata pelajaran lainnya. Hampir 36 anak maju ke panggung diantara 86 anak yg di wisuda hari itu. Orang tua anak pun terlihat bahagia ternyata anak-anak mereka punya prestasi sendiri diantara sekian banyak pelajaran yang mesti mereka hadapi.

secara hati, anak-anak mulai dapat berbangga akan dirinya, walapun mungkin kedepannya mereka akan menjadi ahli yang lain, paling tidak mereka sudah mendapat gambaran bahwa mereka bisa membuat yang terbaik dalam kurun waktu 6 tahun itu. Semoga kebanggaan itu menjadi pemicu semangat mereka ke depannya, penghargaan sekecil apapun untuk seorang anak merupakan hadiah yang tak terhingga begitu pula sebaliknya cercaan sekecil apapun untuk seorang anak, merupakan luka yang tak terhingga.

juga untuk guru anak-anak, ikatan yang kuat antara mereka membuat mereka secara jelas dapat memberikan penilaian untuk pembimbing mereka, diberikan penghargaan untuk berbagai kategori mulai guru yang paling sabar, guru yang paling humoris, guru yang paling tegas dll.

bagi aku pribadi berinteraksi dengan guru anak-anak sdh sangat sering namun kali ini terasa berbeda karena yg disiapkan juga berbeda, ikatan yang  dekat tanpa  pembatas seperti biasanya dimana hanya anggukan kepala saja menandakan silaturahim, bisa berbicara layaknya sahabat, makan bersama, bertukar pikiran bersama untuk mewujudkan acara. subhanallah.

semakin terasa guru anak-anak adalah orang tua ke dua bahkan mungkin anak lebih dapat berkomunikasi dengan guru dibandingkan orang tuanya. Jika guru pindah atau sdh tidak mengajar lagi rasa sedih anak terbawa sampai rumah, pertanyaan yang selalu tidak dapat aku jawab kala anak bertanya : kenapa ustad/ustadzah keluar ya, mereka baik sekali.

perasaan haru semakin memuncak pada puncak acara saling bersalaman, mata anak-anak berkaca-kaca bahkan menangis takkala ustad dan ustadjah mereka memeluk penuh haru, anak didik mereka yang kecil mungil sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan dengan kopiahnya dan yang cantik dalam balutan baju muslimahnya dengan daa doa indah terlontar dari mereka.

Iklan

Posted on 24 Oktober 2010, in Aneka Tips, Cerita Anak, Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas, lingkungan, Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. ini saya yang koneksi labil, ato emang ga da foto acaranya bun? –a

  2. acara yg indah
    dan bunda terlibat mengemasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: