kado yang indah dari seorang sahabat….

Buka FB, ada sahabat yang mengirim  cerita ini, semoga cerita ini dapat membawa kita kepada kebahagiaan yang sejati…

Ryi LimaMay 24, 2010 at 8:37am

Subject: CINTAI AKU APA ADANYA

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Aku lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat ku lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Aku punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati ku, aku akan merubah pikiran ku: Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk ku?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “aku akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan …

“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan aku untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

” Sayang ketika kamu mengetik di komputer lalu program-program di PC-nya kacau dan akhirnya kau menangis di depan monitor, aku harus memberikan jari-jari ku supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya dan kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu.

Sayang, kamu juga selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki ku supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.

Sayang, kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata ku untuk menunjukkan jalan kepadamu.

Sayang, kamu selalu sakit dan pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saku harus memberikan tangan ku untuk memijat kakimu yang pegal.

Cinta, ketika kamu sedang diam di rumah, dan aku selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Maka aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.

Cinta, kamu terlalu sering menatap layar kaca TV dan Komutermu serta membaca buku sambil tiduran dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, maka aku harus menjaga mata ku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

“Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, aku tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban ku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagia ku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Aku peluk dia penuh kebahagiaan, oh, kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai aku lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, padahal tanpa kita sadari Cinta itu telah terwujud dalam bentuk yang lain walau tidak sesuai dengan wujud yang kita harapkan

Seringkali kali kita menuntut Cinta kepada pasangan kita, namun jarang terfikir oleh kita sejauhmana Cinta yang telah kita berikan padanya. Berikan Cinta Kasih yang tulus kepadanya, kalaupun dia belum membalasnya yakinlah Allah pasti akan membalas dan membisikkan CintaNYA kepadanya untuk diberikan kepada kita.

Di bawah naungan ajaran Islam, kedua pasangan suami istri menjalani hidup mereka dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain.

Di antara keagungan al-Qur’an dan kesempurnaannya, kita melihat semua makna tersebut, baik yang sempat terhitung atau pun tidak, tercermin pada satu ayat al-Qur’an, yaitu:
“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah:187)Ryi LimaRyi Lima

Iklan

Posted on 24 Mei 2010, in Aneka Tips, Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas, Uncategorized. Bookmark the permalink. 22 Komentar.

  1. waduh…bu desi sumpah saya baca tulisan ini sampai menitikan air mata dan teringat akan suami saya di jogja dan saya sekarang berada di majalengka, kami terpisah jarak danwaktu tapi hati kami tak kan terpisahkan, apalagi kami sedang berusaha untuk mempunyai momongan dan untuk yg kedua kalinya kami mengalami kegagalan, pada waktu pagi tadi aku sms ke dia dan mengabarkan bahwa aku dtang bulan dia balas sms ku dan berkata..”yang sabar ya jangan terlalu dipikirkan yang ikhlas aja menerima semua ini” itulah cinta yg ia miliki untukku dan ia telah memperlihatkannya pagi ini

    • sama mbak, waktu aku baca juga menetes air mata, rsanya malu dengan diri sendiri koq kayaknya nggak bersyukur sekali, sudah dikirimkan suami yang baik tapi kita terlalu melow menghadapi kehidupan ini, kadang kekurangan saja yg kita pikirkan tanpa melihat begitu banyak kelebihannya…semoga kita masih selalu dapat bersyukur atas apa yang telah diberikan. amin.

  2. EVI LAILY DIANA

    trims mba desi, unt ceritanya ,ga terasa airmataku menetes waktu membaca cerita, bgt besar cnta suami kpd istri, yg mmg hrs d pelihara smp maut memisahkan..terkadang aku jg pernah berfikir spt sang istri ( tp tdk pernah berfikir unt cerai..nauzubillah) krn ku pikir suami lbh perhatian kpd anak2 dan sibuk unt memenuhi kebutuhan RT..tp aku berfikir kembali mgkn itu salah satu wujud cinta dr suamiku kpd aku dan anak2…sekali lg trims..

  3. Ibu.. Anak kek saya udah boleh baca kayak ginian belom seh *mbersihin air mata..

    • ya boleh dong, untuk pencerahan juga, bahwa seorang istri tetaplah seorang wanita yg memang sdh bawaannya ingin diperhatikan, ingin dimanja, ingin sesekali ada romatisme, itu manusiasi koq.

  4. aku menemukan INDAHnya CINTA sepasang anak manusia dalam cerita ini….hmmmmmm mengharu biru n ROMANTIS!

    • iya ya, ternyata romantis itu diinginkan sampai tua loh…aku kdang seneng banget kalo liat di mall sdh kakek nenek tapi masih gandengan tangan, si neneknya masih pesankan makanan untuk kakek…

  5. terkadang saya berfikir seperti si istri tsb…tapi tidak sampai terucapkan, betapa sakit dan sedihnya suami apabila sampai mendengarnya…saya malu pada diri saya sendiri yang masih selalu melihat kekurangannya tanpa menyadari kekurangan diri sendiri..trims mba atas cerita tsb

    • mbak azaria sepertinya ini fenomega kehidupan keluarga sekarang ya, dimana tuntutan ekonomi yg tinggi sehingga seorang suami kerja keras sampai tidak sadar akan dirinya yang sdh hampir kehilangan keromantisannya, dalam pikirannya hanya bagaimana bisa membahagiakan keluarga dengan materi padahal tidak sepenuhnya materi membuat bahagia ya, sementara sebagai istri yg seharian di rumah dan selalu menantikan suami kembali kerumah dgn penuh keromantisan..kita terlalu menuntut kesempurnaan seorang laki-laki, maunya jadi suami dgn materi yg berlimpah namun sebagai pendamping yg penuh romatisme, padahal kita tahu kesempurnaan hanya milik Tuhan saja. semoga kita selalu bersyukur atas apa yg diberikan. amin

  6. cerita yang mampu memberikan pencerahan, khususnya bagi para istri

  7. Desi… Aku lagi nungguin suamiku kerja n aku di mobil hanya sudah 2 jam.. Tdnya aku dah mulai mangkel kenapa mau jg tadi ktk dia mt temeni hy krn dia bilang pingin barengan seharian… Untung aku buka blogmu.. Dan aku bc ini… Tiba tiba aku jd tersentuh dan mgkn jd melow.. Aku ngerasa aku disini karena ‘cinta’ ya…
    Thanks ya des..

  8. yes mom terkadang sedikit berkorban saja kita suka kesel ya padahal pengorbanan suami kita begitu besarnya untuk kita dan anak anak…semoga kita senantiasa dapat bersyukur

  9. ratna indri astuti

    aku barusan baca waduh mbak gak terasa air mataku sampai menetes, menyentuh sekali, aku jadi teringat almarhum suamiku mbak, untung aja dalam ulasan tadi kita dikasih kesadaran pada saat kita masih segar bugar, jadi kita masih bisa perbaiki diri, dan kita masih bisa memilih, thanks yach…….yach mbak inspiratif sekali…………………..

  10. mbak ratna, jangan sedih ya…senantiasa bersyukur..apa yg telah kita alami adalah yg terbaik diberikan untuk kita…salam

  11. sangat indah judulnya … saya jadi teringat dengan sahabat saya samasa dulu …

  12. what a beautiful story…… meski mungkin tidak selalu sepadan dengan apa yang kita harapkan…. semoga kita selalu bisa menghargai sekecil apapun wujud cinta dari orang-orang yang kita cintai…

  13. saya terharu mendengar cerita nya ,,
    dan saya juga mendapat ilmu baru dari cerita tersebut ,,
    makasih ,,

  14. sist..izin copas ya..:)

  15. bun,,,bagus bgt neh….bisa jd inspirasi u slalu bersyukur mendapatkan pasangan yang sholeh bwt aq n keluarga,,amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: