super pemalas

ketika melewati daerah jalan baru, akhir-akhir ini sangat macet, namun kemacetan yang membuat pengemudi sangat kesal justru dimanfaatkan banyak pihak. Mulai berjualan aneka minuman, kacang rebus , mainan anak-anak, hingga pengemis.

Siang itu sambil menunggu antrian dijalan, mataku tertumbuk pada seorang bayi yang digeletakkan di pinggir jalan, diatas rerumputan dibawah sebatang pohon yang tdk bisa dibilang rimbun lah. Sementara Sang ibu entah kemana, mungkin sedang mendatangi mobil satu persatu.

Kalo melihat pengemis menjadikan bayi sebagai objek untuk meruntuhkan rasa iba bagi yang melihat itu sudah hal biasa, namun kali ini terlihat aneh, ngeri, juga geleng-geleng kepala. Sang bayi yang cuma memakain kaos dalam itu dipakaikan popok sekali pakai, kenapa aku bilang aneh: mengemis tapi bisa membelikan bayi popok sekali pakai, dimana di daerah perkampungan yang masyarakatnya punya penghasilan lumayan saja bayi-bayi mereka tdk dipakaikan popok sekali pakai karena masih terhitung mahal.

Kenapa aku katakan ngeri, dgn dipakaikan popok sekali pakai tidak terlihat atau terasa jika bayi itu pipis, buang air besar seberapa lama(jam) popok itu bisa bertahan, bagaimana jika seharian tidak diganti, tak terbanyang banyaknya kuman berkumpul disana.

Sifat pemalas yang super pemalas ini membawa ide kepada pengemis itu untuk mempermudah semua urusan. Malas bekerja ya mengemis saja dgn bayi dijadikan objek, karena malas mengurus bayi tadi yang sebenernya alat untuk mecari uang dan diurus dgn cukup baik dipakaikan popok sekali pakai. Luar biasa malasnya….

Iklan

Posted on 23 Maret 2010, in Blogroll, Cerita-cerita. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Bener banget bu desi. Malesnya ngga ketulungan,dan ngga mau berkembang.kalau penelitian mengenai pengemis pernah dilakukan oleh seorang peneliti di bandung. Jadi si peneliti itu selama setahun meneliti pengemis2 yg ada di bandung dngn pendekatan kualitatif. Ketika itu dia menemukan kampung pengemis,(seluruh kampung mata pencahariannya pengemis). Dan rumah mereka bagus2. Ketika di rumah pakaian mereka rapih dan makan enak. Ketika mereka mulai bekerja mereka menggunakan pakain lusuh dengan make up pengemis. Bahkan mereka ada semacam ‘impression management’nya ketika menghadapi individu yg ia mintain duit. Oklah kalau mereka di awal mengemis, tapi mengapa terus menerus mngemis,jika memang mereka ingin maju, mereka bisa mengumpulkan modal mengemisnya untuk modal usaha. Kalau saya perhatikan setiap hari, pengemis yg ada di jembatan penyeberangan busway,klo dikira2 10menit saja dia minimal dapet 3 – 5ribu, berarti sejam bisa 30 – 50ribu. Apalagi kalau mereka sekeluarga tersebar. Dan mereka mendapatkan itu tanpa modal di awal. Nah tarohlah sebulan dia mengemis, bisa dibayangkan penghasilannya bu. Kalau dia memang mau maju,yah kenapa tidak berjualan atau usaha saja. Yah alesannya karena lebih enak ngemis, dan males. Itulah mengapa memberi lsg kpd pengemis malah membuat mereka keenakan. Kecuali kalau memang ada lembaga resmi yg kita tau kredibilitas dan ada datanya. Di bogor semakin banyak yg bu..

    • ya mas pandu, itulah yang selalu ibu2 bahas kalo lagi kumpul, kita yang memberikan jadi kadang bingung antara amal dan dosa, saat kita memberikan tapi kita juga ngedumel dalam hati, ini masih muda, sehat koq ya ngemis. Terkadang ada pengemis yg ngomel dgn bahasa kasar kalo tdk dikasih atau menolak kalo diberikan bukan dalam bentuk uang…yg gawatnya ini jadi penyakit degeneratif-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: