Mampukah di saat krisis global ini kita “menabung”

Pagi yg terbangun beberapa kali khawatir kesiangan, hari pertama anak2 sekolah. Setelah melambaikan tangan mengantar mereka ke mobil jemputan, segera menutup pintu pagar dan membuka onggokan Koran yg terbungkus plastik, masih seputar Palestina, dan beberapa info menarik lainnya, Koran selesai pagi ini.

Sambil menunggu mesin cuci menyelesaikan tugasnya, aku buka TV -SCTV, rupanya Mas Uli dan Ibu Ligwina sedang ngobrol masalah krisis global yg nampaknya tidak akan segera expired. Prediksinya tahun 2009 akan semakin banyak yg akan kehilangan pekerjaan dan akhir-akhir ini pemerintah terus memotivasi untuk usaha2 micro berkembang baik karena usaha micro inilah yang diharapkan bisa mengurangi pengangguran, katanya Bank-Bank akan diminta untuk membantu permodalan usaha mikro .

Ehm kalo usaha micro bisa mengurangi pengangguran aku setuju banget, tapi masalah bank2 yg akan membantu sepenuhnya permodalah usaha micro, aku tanda tanya besar, terutama Bank2 pemerintah yg digembor2kan akan ditunjuk untuk kegiatan ini.

Ini murni pengalaman pribadi saat aku akan memperbesar usaha. Dengan segala syarat yg diminta untuk mengajukan suatu kredit ke Bank membuat aku mendaftarakan bisnis mini untuk menjadi legal ( ada SIUP, TDP, HO, NPWP) dgn biaya yg cukup besar untuk mendapatkan surat2 tersebut. dengan perasaan penuh harapan aku berjalan ke salah satu Bank yg katanya bisa mengucurkan dana untuk usaha micro tanpa jaminan asalkan usaha itu sdh cukup produktif.

Apa mau dikata, memasuki pintu bagian kredit sdh disambut orang2 yg tdk care, alias dicuekin, beda waktu aku jadi customer service, begitu melihat nasabah dipintu sdh disambut kalo perlu pintu kita yg bukakan, dipersilahkan duduk dan ditanya apa yg bisa kami bantu, dgn tidak lama kemudian walaupun Cuma air putih saja sdh tersedia di hadapan nasabah.

Waktu aku tanya maksud kedatangan, satu orang menunjuk orang lain itupun tidak dengan tangan, tapi cukup menoleh dengan memanyunkan mulutnya untuk aku pergi ke meja yg satunya. Belum selesai aku cerita bagaimana sekarang perttumbuhan small bisnisku, langsung ditanya apa agunannya? Dan kesan yg aku tangkap nggak bisa tanpa agunan, agunan yg ada pun tdk boleh jauh2 lokasinya dari Bank tersebut, kalo ada PBKB saja  biar cepat dana mencair. Malah aku disarankan ke beberapa Bank swasta. Hampir saja perkataan kasar keluar dari mulur aku, kalo harus pakai jaminan BPKB dan agunan lain untuk apa aku mengurus syarat2 yg diminta, ke bank manapun bisa cair cepat dana dgn BPKB mobil keluaran baru tanpa harus pakai SIUP dan teman2nya.

Sekali lagi, usulan pemerintah sangat bagus, tapi pelaksanaannya sampai masyarakat belum tepat sasaran, tetap saja perusahaan2 makro yg mendapat fasilitas, makanya perusahaaan2 micro yang tetap berusaha sendiri, semampunya, yg mampu bertahan yg tidak mampu menambah angka pengangguran.

Dengan muka merah menahan marah, aku keluar dari Bank itu. Dan nggak bisa berkata apa2 lagi. Kecewa luar biasa, makanya sampe sekarang kalo ada teman bilang, des ajukan ke bank aja, minta bantuan dana untuk memperbesar usaha kamu. Aku cukup bilang, gimana ntar ajalah. Biarkan small bisnis ini mengalir apa adanya, mudah2an bisa besar.

Kembali ke lap top, makin lama obrolan ini makin menarik, yg aku tangkap dari obrolan itu, bahwa kita diminta/disarankan/dan setengah memaksa harus mulai membuat buat dana darurat. Untuk apa” ini menjaga jika tiba-tiba terjadi PHK akibat dari krisis global” besarnya dana ini yaitu 12 x jumlah pengeluaran kita perbulan, kenapa harus 12, dengan asumsi jika terjadi PHK maka masih bisa hidup normal seperti biasa selama 1 tahun sambil mencari pekerjaan /pemasukan lagi.

Oh kalo sdh jadi hitungan sangat besar memang, namun menurut Ibu Wina dana itu tidak serta merta harus disediakan sekarang, tapi mulai dianggarkan mungkin bisa 2 tahun atau 3 tahun. Tadi dimisalkan, pengeluaran gross per bulan Rp.2 juta, maka dana darurat yg harus kita endapkan, tidak boleh dikutak-katik adalah Rp.24juta.

Bagaimana teman-teman. Aku sendiri susah kalo mesti melakukan hal itu uang untuk small bisnis aku kan selalu berputar dan berputar tidak bisa mengendap, tapi rasanya memang harus dicoba, tadi Ibu Wina bilang, yg penting mulai menyisihkan, tidak bisa 300ribu perbulan, ya 200 saja, tidak bisa 200 ya 100 saja, yg penting mula menabung dgn target tersebut.

Aku rasa, my hubby pasti tersenyum membaca postingan aku pagi ini, dia tahu aku belum bisa menabung cara tunai begitu makanya tabungan kami harus berbentuk investasi, ya salah satunya dengan ikut berbagai asuransi, kan sekarang asuransi adalah saving dengan beberapa keuntungan, saving yg ada proteksinya dan bunga nya selalu lebih tinggi dari bunga saving biasa.

Kita coba bareng-bareng yook????

Iklan

Posted on 12 Januari 2009, in Aneka Tips, Blogroll, Cerita-cerita, Keluarga, Komunitas. Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. Kok gak disebutin bu nama bank nya apa?

  2. waaah seperti itu ya kalau mengajukan pinjaman ke bank. akhirnya memang biar usaha kecil asal mengalir tapi ngga makan hati ya mbak. salam kenal

  3. hala mas fadhli, terima kasih sdh mampir ke blog aku, seperti umumnya mas, walaupun salah tetap saja manusia itu sulit untuk menerima dipersalahkan, jadi nama bank cukup untuk aku simpan saja dalam dokumen pribadi, munkin saja orang2nya pun sdh ganti. salam

  4. halo mbak ami, ehm itu pengalaman pribadi aku, mudah2an yg lain tdk mengalaminya. Iya mbak walaupun kecil, usaha sendiri tdk tergantung pada pemodal yg lain cukup menyenangkan koq, paling tidak kita tetap jadi pengambil keputusan, salam kenal kembali.

  5. kq gitu sih mbak…malah bank ditempat aku ga mau terima BPKB karna menurut mereka bank kami bukan pegadaian…jadi kalo mo menggunakan BPKB sebagai agunan ke pegadaian ajah…begitu mbak…mereka lebih suka dengan persyaratan yang seperti mbak sebutkan itu, SIUP,SITU,NPWP dan temen2…..kalo aku jadi mbak…sudah pasti aku semarah mbak juga…ga disetujui permohonan kredit juga ga papa menurut aku…asal pelayanannya lebih sopan dan menghargai nasabah….kitanya juga mungkin bisa ngerti kekurangan kita dimana atau mungkin belom layak untuk dikasih kredit ya mbak…?
    aku setuju dengan perjalan bisnis apa adanya aja..dari pada kita beriba hati selalu di anak tirikan dengan pengusaha macro…

    tampaknya program taon ini nambah satu…menabung lebih giat dari taon sebelomnya ya mbak…sapa tau ntar aku juga ketiban di PHK…..

  6. halo mbak Mia, iya mbak pada akhirnya dan sampai sekarang, usaha aku sedikit demi sedikit merangkak mulai lumayan, walaupun kecil aku sdh bisa membuka lapangan kerja baru kan.
    Benar mbak, kalo usaha kita udah macro malah dikejar untuk diberikan kredit, padahal kalo perusahaan macro itu bangrut resiko kredit macet juga besar banget kan. Dan kalo kita lihat perusahaan micro justru lebih stabil, ya walupun banyak juga yg tutup.
    iya aku juga mulai memikirkan hal itu, menabung, aku mulai buat rincian detail pengeluaran tiap hari biar akhir bulan bisa terlihat pengeluaran yg kurang perlu bisa kita tekan untuk dijadikan tabungan. salam

  7. sama bu, aku juga paling nggak bisa nyimpen uang… jadi ikutan asuransi… ini juga dulu diajakin sama sahabatku yg jd CSO di bank… katanya ini menguntungkan… jadi ya aku ikutan aja…

  8. bener jeng, untuk type seperti kita yg nggak bisa simpan tunai keras mendingan ikut inventasi kayak asuransi, mau nggak mau jadi nabung dan selalu sayang kalo mau diambil terutama kalo belum selesai masa pembayaran proteksinya. salam

  9. Bunda, kita harus mampu
    Saya tetap berusaha nabung

    Untuk masa depan anak cucu (anak saya) :)

  10. iya kang, berat sekarang jadi manager rumah tangga, kenaikan pendapatan dengan kenaikan harga2 bahan pangan dan sandang tidak seimbang, tapi tetap sangat bersyukur negara kita aman, bisa makan dengan nikmat walaupun sederhana, alhamdulillah.

  11. ceritanya kenapa ngga diangkat ke media aja bu .. seperti surat pembaca .. biar kapok .. ngga masalah di approve atau tidak nya .. yang penting pelayannanya enak ..

  12. Hati-hati dengan investasi yang dibungkus dengan asuransi, apalagi bila diputar melalui instrumen saham. Keuntungan saham saat ini adalah sekitar NEGATIF 60% (baca: rugi 60%). Pisahkan asuransi dan investasi. Investasi cari yang aman, misalnya ORI atau Sukuk. Sebaiknya langsung saja jangan melalui pihak ke-3 (misalnya reksadana) karena komisi mereka tidak sedikit. Krisis finansial ini membuat kita harus banyak mengubah strategi investasi.

  13. untuk mpu, salam kenal dan terima kasih sdh berkenan mampir dan terima kasih atas sarannya. salam

  14. Mbak Defidi jangan sebut nama banknya, nanti kena kasus seperti ibu Prita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: