apa enaknya menyimpan rasa iri di hati, enakan nyimpan Black Forest

Tergerak pagi ini untuk menulis yg kata orang penyakit hati “iri”. emang udah dari sananya kita diciptakan punya hati , nah tinggal isinya tugas kita untuk mengolahnya, apakah akan dijadikan semur senang, rendang syukur, opor baik atau kita jadikan gulai iri.

mulai kita lahir sudah ada rasa iri, mungkin kita belum atau tdk pernah terpikir, begitu tangisan terdengar dan terdengar ada yg berkata , perempuan atau laki? ada kata lain yg menyusul, koq perempuan ya, akukan maunya anak laki2. Mulailah rasa iri dalam hati sang bayi ada, iya ya aku koq terlahir perempuan kenapa tidak laki2 sesuai keinginan orang yg bilang tadi.

mulai diberi minum, duh anak ini susah amat minumnya, nggak seperti kakaknya, rasa iri sang bayi muncul lagi, kenapa aku tdk seperti kakak ya minumnya banyak. Tidak lama terdengar lagi suara, duh anak ini susah sekali makannya tidak seperti anak tetangga sebelah, rasa iri sang bayi muncul lagi, iya ya koq aku tidak seperti anak tetangga sebelah makannya mudah.

kemudian terdengar lagi, duh anak ini sdh 3 bulan belum bisa tengkurap, padahal keponakan umur segitu sdh tengkurap. Sang bayi iri lagi, iya ya aku koq tidak seperti sepupu yg cepat tengkurapnya. Hal itu terus berlanjut hingga sang bayi besar dan mulai mengerti apa itu rasa iri dan semakin besar rasa irinya manakala dirinya dibanding-bandingkan orang lain.

Sifat itu akan terbawa hingga ke lingkungan sosialisasinya,  di mana tidak akan pernah puas dan senang melihat siapapun lebih baik dari dia, menurut hatinya. Lihat orang kreatif dia iri, lihat orang berhasil dia iri, lihat orang senang dia iri, sampai lihat orang susahpun tetap iri.

Nah, kalo sudah begini siapa sebenarnya yang salah ? Kala orang lain kesal dengan perbuatannya yg terus memupuk rasa iri, terus melakukan perbuatan,perktaan yg membuat orang lain tidak suka, apa kata orang? Like father like son, like mother like son ato like father like daughter and like mother like daughter.

benarkah demikian? orang tua kah yang salah ? atau lingkungan kan yang salah? atau salah anak itu sendiri yg tidak bisa menjaga hatinya.

Kenapa aku tergerak menulis masalah ini pagi ini? banyak masukan, banyak pujian tapi banyak juga makian bahkan akhir2 ini justru mengarah ke iri, tapi untuk apa ?

apakah dengan makian dan tulisan-tulisan yg kurang sedap di baca, bahkan dengan mengucapkan salam sebelum mengutarakan cacian dan melontarkan kata-kata iri, apa yg mereka dapat? toh aku tetap jualan kue, tetap jualan nasi karena itu memang salah satu pekerjaan aku untuk menopang kehidupan kami, dengan suami PNS dan jualan kecil-kecilan aku ini, alhamdulillah masih bisa makan dengan penuh syukur walaupun masih banyak hutang yg mesti kami selesaikan.

Apakah dengan rasa iri yg terus menerus dilontarkan membuat si pelontar lega, aku yakin justru dia semakin iri dan iri berkelanjutan takkan terpuaskan hingga dia tidak bisa lagi merasa iri karena Sang Pemilik Hati sudah akan mengambil hatinya.

Bahkan menjelang ajal menjemput masih tersisa rasa iri itu, terlontar perkataan , kenapa dibuat sakit begini, kalo mau diambil ya diambil aja seperti orang itu, masuk rumah sakit kemarin besok udah mati.

Dan setelah matipun masih iri juga, koq kuburan aku disini ya jelek amat dan jauh lagi dari rumah, sementara saudara aku dikubur di tengah kota dekat kalo mau ziarah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Alangkah beratnya jika mulai lahir hingga ajal menjemput kita tidak mau melepaskan rasa iri itu dari hati kita, tidak mungkin kalo kita tdk punya rasa iri karena kita manusia, namun kita diberi akal pikiran untuk mengolah ajakan2 hati untuk meredam rasa iri yg berlebihan, paling tidak balance lah 50%-50%.

Aku sendiri masih suka iri, alangkah enaknya ya kalo aku ada uang banyak, pingin sekolah lagi khusus food and beverage ke Luar Negeri, jepang, atau perancis tau amerika. Lain kesempatan, hati mengajak lagi, enak sekali ya kalo bisa ikut kursus di hotel bintang 5 seperti iklan di majalah, tapi biayanya selangit. Namun percuma kan kalo kita hanya memupuk rasa iri tapi kita tidak berusaha. Apakah koki2 hotel binta 5 adalah semua orang kaya, aku rasa tdk! banyak dari mereka merangkak dari bawah sekali, mungkin dari tukang cucui piring kemudian jadi tukang potong2 sayuran, kemudian jadi tukang aduk2 masakan, kemudian jadi tukang timbang2 bahan2 makanana, terus jadi tukang membuat adonan makanan dan akhirnya semua ilmu terserap, mulai dipercaya memasak, menyajikan akhirnya jadi koki.

Kalo begitu apakah tidak lebih baik kita berusaha meniru mereka( membujuk hati sendiri), mampunya cuma beli bukunya saja, untuk ikut kursus belum mampu dan coba buat sendiri sesuai petunjuk buku itu, gagal coba lagi, gagal coba lagi, dan berhasil ( suatu kemenangan buat diri sendiri).

tulisan ini sekedar coretan hati pagi hari manakala sdh tdk ada pekerjaan berat yg mesti dikerjakan, anak-anak sdh berangkat sekolah, bapakanak2 sdh ke kantor, nonton TV acara favorit belum ada, akhirnya lari kekomputer dan selamat pagi teman-teman, semoga hari ini menyenangkan bagi hati kita dan hati orang lain, juga besok dan besok.

Posted on 11 November 2008, in Cerita-cerita, Keluarga. Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. IRI…..?
    penyakit hati paling akut mbak…sangat mudah tertular…sangat cepat perkembangannya…dan kalo dah akut bisa bikin yang terjangkit gila…ibarat ikan yang hidup dalam kolam yang airnya minim…kleper2 sendiri…semoga kita dijauhkan dari penyakit hati yang sangat berbahaya ini….

  2. setuju mbak mia, sangat mengerikan kalo gitu ya.

  3. black forrest nya bagi dong Bu..
    jangan di simpen sendiri…
    heheheh….

  4. aku suka postingan ini bunda
    kita benamkan iri itu di kue2 nan lejat
    trus kita lumat deh :)

  5. oRido, ayo kerumah , kapan? kita maem Black Forest rame2

    Kang, benar adanya mari kita benamkan iri sedalam2nya, biarkan dia terbenam sampai dasar kue.

  6. assalamu’alaikum wr wb
    Pertama kali nongol di blognya mama qila nih. Subhanallah emang bagus baget. Jdi pingin segera bikin resepnya lho. Syukron untuk bagi-bagi ilmunya ya mama qila, moga jadi ilmu yang bermanfaat dan kebaikannya tetap mengalir sampai nanti bertemu Allah SWT. Bicara tentang rasa iri ya. Waah sifat iri hanya akan membuat hati kita menjadi kotor dan gelap. Hati itu seperti kaca lho. Jika ada satu dosa kita lakukan, ia akan membuat noktah hitam disana.Ibarat kayu bakar, bara apinya akan memakannya hingga pada akhirnya hangus tiada bersisa. Semoga kita dijauhkan dari sifat demikian…….

  7. dari kecil anak sudah saya ajarkan untuk tidak iri pada orang lain…bahwa masing2 manusia sudah punya rizki dan jalan hidup sendiri2 yang tidak mungkin tertukar…
    mungkin hal ini saya dapat dari ajaran mama. like mother like daughter…
    mama termasuk pelukis yang punya nama di kota surabaya tapi beliau juga ikut menjualkan bahkan mempromosikan pelukis lain,mengajak teman2nya untuk belajar melukis dan berpameran lukisan…
    sampai saya heran,nggak takut makin banyak saingannya ma? jawab mama: ah.. rejeki orang nggak akan ketuker, yang penting bagaimana kita bisa bermanfaat buat banyak orang…
    maaf ya bu…kepanjangan,saya jg lagi nunggu jam pulang sekolah anak hehe..

  8. assalamu’alaikum wr.wb ustadjah yuni, apa kabar? terima kasih sudah berkenan mampir ke blog ini. Alhamdulillah jika blog ini dapat bermanfaat bagi orang lain, amin. terima kasih untuk doanya dan supportnya semoga kebaikan senantiasa untuk kita semua hingga akhir zaman. amin wassalam.

  9. apa kabar mbak rani, semoga sehat selalu dan terima kasih sdh berkenan untuk mampir ke blog ini. Salam hormat untuk ibunda mbak rani, semoga apa yg telah beliau jalankan bisa menjadi contoh bagi kita semua bahwa rezeki, ilmu yg dipinjamkan oleh Sang Pemilik Dunia ke kita selayaknya kita bagikan kepada yg lain karena itu memang bukan hak kita sepenuhnya. amin. Kalo aku ke surabaya aku mampir ya mbak. salam

  10. duh..mba desi..aku terharu baca tulisannya..bikin semangat lagi untuk terus memperbaiki hati yang kadang2 suka iri…salam hangat buat keluarga tercinta.

  11. ya mbak, semoga kita semua bisa memperbaiki hati yg seringkali dihinggapi rasa iri. salam hangat kembali untuk keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: