Belajar dan mengajar, 2 beban yang sama berat

Banyaknya pesanan kue kering jelas membuat aku senang dan bersyukur namun seiring dengan pesanan yg terus mengalir tidak cukup hanya dikerjakan oleh 3 orang, akhirnya aku minta bantuan lagi 4 orang. SDM baru, mau tidak mau harus diajari dahulu dan ternyata buka pekerjaan mudah dalam waktu singkat kita berharap mereka segera adaptasi dengan pekerjaan yg kita berikan walaupun yg sederhana sekalipun.

Katakanlah, adonan sudah dibuat, sdh diberikan contoh untuk membentuk satu jenis kue kering, control yg ketat harus diberlakukan, sedikit meleng ( lepas control  kayaknya ya persamaannya) bentuk kue sudah nggak bagus lagi, alhasil banyak ku-ker mesti dikorbankan karena nggak masuk kategori.

tahap selanjutnya membakar kue, mereka nggak tau sama sekali tingkat kematangan kue, di ajari dulu perlahan baru mulai mereka yg memanggang tapi juga mesti control terus, tetep aja kecolongan beberapa toples gosong.

sedih dengan hal ini tentu saja, belajar secara singkat dengan kapasitas mereka yg minim di bidang kuliner merupakan PR yg berat, tapi mungkin hal serupa juga dirasakan oleh guru kuliner aku dulu ya, dari mulai pengenalan bahan hingga step by step pengerjaan di berikan, namun tingkat kegagalan masih tinggi 60%. benar adanya mesti coba2 terus karena kondisi suhu saja bisa pengaruh bagi cake en cookies.

aku sering menjadi murid namun juga sering menjadi guru, posisi yg pernah dijalani membuat kita bisa memahami diri sendiri, jika kita jadi murid sebaiknya sangat hargailah guru karena disaat kita menjadi guru sangat tidak enak jika murid kesannya tidak serius sementara kita tuk siapkan bahan mengajar apalagi seperti aku cooking class yg peralatannnya cukup banyak belum lagi beban mental jika hasil cooking tidak maksimal.

Ini sebenarnya yg menjadi pokok cerita ini, mengambil pegawai musiman yg tidak suka a belum pernah mengerjakan pembuatan kue, sejujurnya  membuat aku sedih juga( aku belum bisa menciptakan regenerasi yg bagus), aku sangat berharap mereka mau belajar ( ini kan belajar langsung dan tanpa biaya), mudah2an kelak berguna bagi mereka- aku tanya mereka hanya lulusan sd dan smp, ada juga yg lulus sma, namun motivasi mereka hanya mengejar upah dan selesai.

Jika saja mereka memahami bahwa belajar sambil praktek langsung adalah belajar yg ideal apalagi aku sdh sampai tahap mengajarkan mereka  tuk membuat adonan dengan menimbang bahan2, zaman dulu kala aku jadi murid rasanya senang sekali jika guru memberikan materi lebih dari yg hanya tertulis di kertas panduan, segera aku catat dgn cepat karena guru hanya sekilas membahasnya, Namun dari 7 orang sdm aku tdk pernah terlontar dari mereka satu kata saja yg aku harapkan , SETELAH INI DIAPAKAN LAGI BU,  kata itu singkat namun maknanya luas, berarti mereka mau tau kelanjutan dari pekerjaan yg telah selesai. Yang sering terlontar adalah ” habis ini selesai kan?” sambil mereka melihat jam.

Duh ternyata masih sedikit sekali prosentase mereka ingin belajar ya, tapi aq nggak bisa maksa mereka tuk mau medalami bidang ini kan?  sering terlintas di kepala, aku berdiri bersama2 anak2 yg putus sekolah atau di suatu tempat dimana banyak sekali anak2 yg menganggur atau daerah terpencil, mengajarkan mereka bagaimana memulai usaha dengan biaya yg masih bisa terjangkau, namun bisa menunjang kehidupan mereka kelak jika dibuat serius. Terlalu muluk mungkin ya, karena aq tdk dapat berjalan sendiri tanpa ditopang kiri dan kanan, saat ini saja jalanku masih terpincang-pincang, masih harus belajar dan belajar.

ada yg kirim cerita ke email aq, seorang bapak yg dapt berperan sebagai ibu dan juga bapak, beliau membesarkan 3 anak perempuan hingga hampir mencapai bangku SMTA dan berniat membiayai kuliah mereka (tanpa seorang ibu), dan berniat pergi Haji, dengan usaha pembuat kue kering, harga kue kering yg sangat minim krna kondisi daerah mereka tdk mungkin menjual dgn harga tinggi, namun karena serius usaha itu bisa membiayai kehidupan mereka sekeluarga. Sangat tersanjung Bapak tersebut minta saran aku bagaimana usahanya bisa lebih berkembang dan harga kue bisa lebih tinggi.

Aku katakan, saya yg harusnya belajar banyak dengan Bapak, dan beberapa kali saling bertukar cerita banyak sekali pelajaran berharga yg bisa aku ambil, ternyata benar adanya belajar , belajar dan belajar tanpa mengenal batas dan waktu, dan setiap orang bisa menjadi guru bagi kita tanpa   mengkotak-kotakkan status sosial. Benar juga adanya satu kata -IQRO’- bacalah, maka kita harus selalu membaca untuk bisa belajar.

Mengingat hal ini dan menonton film laskar Pelangi, tdk terasa air mata menetes, betapa selama ini banyak waktu terbuang untuk hal2 yg kurang bermanfaat, banyak buku berserakan di rumah yg belum terbaca, banyak ilmu yg berserakan tapi tidak dimanfaatkan, sementara banyak orang lain di belahan dunia lain sangat kekurangan ilmu, sangat kekurangan buku, sangat kekurangan pengetahuan.

Iklan

Posted on 9 Oktober 2008, in Bisnis boga, Cerita-cerita, Keluarga, Kue Kering. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. iya mbak yang susah itu menumbuhkan keinginan belajar, untuk mengetahui lebih. anak sekarang maunya yang instan2 saja,prihatin banget sih, tapi tidak semua anak seperti itu kok. padahal yag mbak ajarkan itu bisa langsung mereka praktekan untuk buka usaha kalo sudah selesai kerja di mbak. mungkin paradigma mereka yang harus di ubah ya, pelan2 dan dengan bahasa sederhana mudah2an mereka terbuka wawasannya. Salut banget dengan tujuan mulia mbak, disamping memberi rejeki ke mereka namun juga membekali ilmu untuk bisa usaha. Sabar ya mbak, pasti ada hadiah manis dari Tuhan untuk ketulusan mbak ini.

  2. halo mbak kutilang terima kasih supportnya, kalo ditilik kenapa anak skarang suka yg instan sebenarnya dari lingkungan jg sich ya, trkdang mengaca pd diri sndiri kala sbuk aq buatkan mreka mkanan yg instan sprti mie isntan ato goreng nugget, next time aq minta bantuan mreka tuk bersihkan bahan2 tuk lauk mreka blang, nggak usah yg repot bu, buat pizza mie ato nugget diberi saus, hek (senjata makan tuan kah)? itu satu cerita kecil ya, ato waktu buku mreka terselip kt bs blang ya udah ntar beli lagi tanpa memberi mreka beban tuk mencari dulu, memang kt sbgai ortu hrus terus blajar ya dgn si-kon zaman skarang, yg ga bagus itu biasanya rasa welas asih ibu ke anaknya yg berlebihan, apa2 nggak tega, khawatir mreka mendapat beban yg trlalu berat, alhasil mreka slalu dipermdah dan akhirnya kurang ide dan cepat kecil hati tuk selesaikan masalah, itu yg sepertinya hrus jadi perhatian utama kt ya mbak. salam

  3. Nah… sekarang saatnya KUE pasca Idul Fitri.
    kriteriannya :
    1. Sangat lain dari sajian Id. Fitri, sebaiknya kontras manis vs …; keras vs lembek; dst.
    2. Harganya murah, habis skarang lagi tongpes.
    3. Menaha kegemukan; khan habis diet… masak langsung dirusak.
    4. Kirimkan; khan lawan di datangi.
    5. ahhh kebanyakan

  4. yah mba.. itulah mba kendalanya dlam berbisnis..

    kalo dari sudut pandang si pekerja… saya kerja skrg ya mengejar gaji, mba bayar saya sekian ya sudah, saya kerjakan.
    dan kemampuan mereka ini minim.

    kalo dari sudut pandang owner, si mba..pastinya mengharapkan membayar gaji rendah dengan harapan semua bisa dikerjakan..

    di indonesia begitu bukan..

    kalau misal mau yang udah ahli dengan pengalaman pasti bayarannya lebih tinggi dan kadang owner tidak mau bayar terlalu tinggi..

    dan kalaupun mereka bisa dan ada inisiatif pastinya ga akan jadi karyawan. . .

    betul tidak ??

    all about mind set . . .

    ————————————
    Jangan Kesini :
    http://komikz.blogsite.org
    nanti ketagihan loh
    ————————————

  5. tuk pak Limpo, begitu tipnya ya pak, makasih sharingnya ya pak. salam

  6. tuk braveh4rt, makasih ya sdh mampir , kala aq masih orang TDB (orang kantoran) suka minta kerja tambahan secara jadi orang projeck selesai satu projeck kan jeda waktu agak lama tuh nggak sibuknya tp tiap hr mesti setor muka, kayknya mubazir amat ya menempuh 4 jam perjalanan tuk sampe kantor cma leyeh2an aja, my boss suka ketawain tp aq disuruh bantu2 bagian lain malah jadi bisa macam2, tapi tiap orang beda ya mbak, dan nggak akan habis kt bahas, kita berdoa bersama aja lah semoga kt semua bisa sukses. salam semangat.

  7. Hi Mbak Desi,sewaktu dulu aku masih di SMP aku punya cita2 kepengin nerusin sekolah ke SMKK jurusan tata boga tapi apa boleh dikata dulu NEM ku kurang,mau masuk SMKK swasta waktu itu orang tua aku nggak ada biaya jadi aku masuk SMA biasa,lulus SMA aku salah ambil pilihan padahal aku kepengennya nerusin kuliah ngambil jurusan perhotelan jadinya malah ngambil sekolah sekretaris krn aku pikir setelah lulus gampang nyari kerja ternyata nggak semudah yang diinginkan,tapi memang terus terang aku hobby masak walaupun nggak selihai Mbak Desi tapi aku tetep belajar apalagi suami aku bener2 cinta masakan Jerman jadi aku berusaha belajar dari buku2 resep Jerman dan cara pengolahannya walaupun awalnya nggak ngerti,banyak tanya kanan kiri,yaa dari belajar itu kita jadi bisa makanya musti ada motivasi dari diri kita sendiri,betul kan mbak…makanya kalau deket aku mau deh bantuin Mbak sekalian belajar,salam buat keluarga ya Mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: