Nari diselamatkan oleh jaring laba-laba

Libi adalah laba-laba kecil yang tinggal bersama ayah dan ibunya disebuah goa kecil.

Libi adalah anak yang rajin. Setiap hari dia bangun pagi-pagi sekali dan selalu membantu ayah dan ibunya. Bangun tidur Libi membersihkan tempat tidurnya, kemudian mandi dan berpakaian sendiri, karena ibunya pagi hari sudah sibuk membuat makanan untuk sarapan, bekal Libi ke sekolah dan bapak laba-laba ke kantor.

Pagi itu Libi sudah siap-siap berangkat setelah sarapan. “Ibu, ayah aku berangkat sekolah dulu ya?”, ujar Libi sambil mencium tangan ibu dan ayahnya. “Iya nak, bekalmu sudah dibawa kan? Hari ini bekal yang ibu bawakan banyak, kamu boleh membagikannnya kepada temanmu”, ujar ibu sambil mengantar libi ke depan rumah. “Hati-hati yang Libi, pulang sekolah segera pulang, apabila hujan sebaiknya kamu memberitahu ibu guru supaya dapat menelpon ibu ke rumah jadi ibu tidak khawatir apabila kamu pulang terlambat, kamu ingat nomor telpon rumah kita kan Libi?”. “Iya bu, aku ingat nomornya 123456. Assalamualauikum bu?”, Ujar Libi sambil meninggalkan rumahnya. “Waalaikum salam”, jawab ibu.

Di perjalanan menuju sekolah, Libi bertemu dengan teman-temannnya yang akan berangkat sekolah juga. “Assalamualaikum teman-teman, apakah pagi ini kalian senang semua?”. “Waalaikum salam Libi, kami senang semua setelah libur kemarin.”

Sampai disekolah Libi dan teman-temannya belajar dengan baik, pelajaran yang diberikan oleh ibu dan bapak guru diterima dengan baik, karena pada saat ibu dan bapak guru memberikan pelajaran Libi mendengarkan dan tidak bermain-main.

Pulang sekolah melewati sebuah hutan kecil, Libi mendengar suara tangisan kecil. Libi mencari-cari arah suara tersebut, Libi menoleh kekiri dan kekanan, keatas dan ke bawah akhirnya dia menemukan anak burung yang sedang menangis.

“Assalamualaikum teman, mengapa engkau menangis?”. “Hu hu hu aku takut sekali, ada seorang anak kecil nakal yang ingin menangkap aku, aku terlepas dari ayah dan Ibu. Pada saat ayah dan ibu pergi aku keluar rumah sendirian dan terjatuh dari sebuah dahan”, ujar burung kecil itu sambil melihat ke arah rumahnya diatas dahan yang tinggi.

“Tadi aku sudah tertangkap oleh anak kecil nakal itu, dan kakiku diikat dengan seutas benang, aku dilempar ke atas supaya terbang dan dia memegangi tali itu, aku terjatuh beberapa kali dan badanku sakit semua, karena aku belum dapat terbang sempurna. Alhamdulillah aku bisa terlepas dari anak itu dan bersembunyi disini”.

“Siapa namamu burung kecil?”. “Namaku Nari, namamu siapa?”. “Aku Libi dan aku tinggal di goa seberang pohon itu bersama ayah dan ibuku, sebaiknya kamu ikut aku, insa’Allah ayah dan ibu dapat membantu kamu untuk kembali ke rumah”.

“Assalamualaikum bu?” Libi memberi salam kepada ibunya. “Waalaikum salam Libi, dengan siapa kamu pulang Libi, ibu baru kali ini melihat temanmu yang ini, mari masuk nak”, pinta ibu Libi dengan ramah. Libi menceritakan semua kejadian yang menimpa temannya. “Ya, Allah kasihan sekali temanmu, sebaiknya kita tunggu ayah insa Allah kita semua dapat membantu mengembalikan temanmu ke rumahnya”.

“Nah itu ayah datang!”, seru Libi sambil berlari menghampiri ayahnya. “Assalamulaikum?”, salam ayah. “Waalaikum salam”, jawab Libi sambil mencium tangan ayahnya.

“Yah, yah aku mau cerita”, kata Libi sambil menarik lengan ayahnya. “Libi, jika ayah pulang dari bekerja sebaiknya biarkan ayah istirahat sebentar ya? Jika ayah sudah selesai baru kamu menceritakannya”.

“Ada apa sebenarnya bu?”, kata ayah. “Wah siapa ini”, ayah melihat Nari sedang duduk dengan sedih. Libi menceritakan semua kejadian yang menimpa Nari. “Ya, allah kasihan sekali temanmu ya, insa Allah ayah dan ibu segera mendapat jalan keluarnya ya nak, kita berdoa bersama semoga Allah swt memberikan jalan keluar yang tebaik untuk temanmu”.

Malam harinya ayah dan ibu berusaha mencari jalan keluarnya. Subhanallah, akhirnya ayah mendapatkan ide. Disebelah rumah mereka ada sebuah goa yang agak besar yang cukup leluasa untuk tempat tinggal sementara Nari, untuk menjaga Nari dari anak nakal ayah akan menutup goa tersebut dengan jaring laba-laba sehingga apabila anak tersebut melewati gua dia tidak akan menemukan Nari karena anak itu akan berpikir apabila Nari masuk ke goa itu pasti akan merusakkan jaring laba-laba tersebut.

Esok paginya rencana ayah disampaikan ke Libi, Libi senang sekali mendengarnya dan akan membantu membuat jaring tersebut. Hari pertama Libi membantu membuat jaring sambil bernyanyi, “jaring-jaring akan cepat selesai, akan kubuat yang besar dan kuat, satu ke kiri satu ke kanana satu ke bawah satu ke atas”. Hari ke 2 Libi membuat jaring lagi, “dua ke kiri, dua ke kanan, dua ke atas dua ke bawah sampai jadi lingkaran”.

Alhamdulillah hari ke 4 jaring laba-laba sudah jadi goa sudah tertutup dengan jaring jaring itu. Nari dan Libi bermain di dalamnya sambil makan kue buatan ibu. Sementara itu, ayah mencoba mencari jalan keluar bagaimana menyampaikan pesan kepada orang tua Nari, karena ayah Libi tidak akan sanggup memanjat pohon yang tinggi sekali.

Ayah Libi bercerita kepada pak Ulat, pak Ulat bercerita kepada pak Kupu-kupu, akhirnya cerita itu sampai ke pak Kera dan pak Kera dengan senang hari menyampaikan pesan itu.

Sebelum orang tua Nari menjemput, benar saja anak nakal itu mencari Nari, tepat di depan gua Nari dia berkata dengan temannya, “Sudahlah aku kira anak burung itu sudah pergi kita sudah mencarinya kemana-mana tidak ada, tidak mungkin dia ada disekitar sini, disini sarang laba-laba semua, kalo dia ke sini pasti merusakkan sarang-sarang laba-laba tapi ini kan tidak semua sarang laba-laba bagus, mari kita pergi aku takut lama-lama disini hari sudah sore”. “Alhamdulilah, ya Allah terima kasih atas pertolongan mu kepada ku melalui keluarga laba-laba ini”, doa Nari bersyukur.

Tidak lama kemudian orang tua Nari datang dan sangat gembira bertemu lagi dengan anak kesayangan mereka yang hilang, Nari minta maaf kepada orang tuanya karena tidak mematuhi pesan yang ditinggalkan supaya tidak keluar rumah sementara ayah dan ibu pergi, karena Nari masih terlalu kecil untuk keluar dan belum dapat terbang sempurna.

Keluarga burung itu mengucapkan terima kasih kepada keluarga Libi, terutama kepada Libi yang baik hati mau menolong sesama dan semua keluarga yang membantu hingga mereka dapat bertemu kembali dengan nari.

Intisari:
Pesan orang tua sebaiknya didengarkan dan dipatuhi.
Menolong sesama adalah ibadah dan amal yang baik.
Allah swt akan memberikan pertolongan kepada mahluknya yang mau berusaha dan berdoa.

Iklan

Posted on 6 Februari 2006, in Cerita Anak. Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. Mohon izin ngopi ceritanya, ya, Mbak?

  2. halo mas sawali, terima kasih sudah buka blog aku. Silahkan saja mas, itu cerita karangan sendiri. 2 anakku suka sekali dibacakan cerita menjelang tidur, ide buat cerita muncul karena setelah dihitung pengeluaran setiap akhir bulan biaya untuk beli buku cerita lumayan juga he he he, aku pikir kenapa tdk buat saja ya cerita yg sederhana yg bisa cepat di tangkap oleh anak-anak , aku sudah buat beberapa cerita lagi, mudah2 an di sela2 waktu buat kue pesanan aku bisa tampilkan di blog, atau jika ada artikel yg bagus untuk anak2 aku masukkan di blog. salam

  3. Ass.
    Saya senang dengan isi ceritanya, perkenankan saya mengutif cerita ini untuk kepentingan mendidik anak. Terima kasih
    Wass.

  4. Ass.
    Silahkan mas tohani, semoga anak2 kita menjadi anak yg bertaqwa,cerdas dan terampil ya. salam untuk keluarga.
    wass.

  5. Mbah, saya mohon meng-copy ceritanya… Karena untuk keperluan anak saya yang dapat tugas dari sekolahnya. Terima kasih, semoga Mbah lebih kreatif dan murah rezeki…

  6. Ass.
    terima kasih sdh berkenan membuka blog saya, silahkan jika cerita ini bisa bermanfaat. salam untuk juniornya.

  7. Mbak mohon ijin juga buat bacain cerita ke anak anak kalau mau tidur, soalnya memang susah nyari di web cerita anak, aku dan anak anak tinggal di Dresden jerman, baru pindah setahun, jadi nggak bawa banyak buku dan juga biar anak anak nggak lupa sama bahasa Indonesia. Makasih ya mbak, kalau bisa ditambah dong ceritanya heheh..Assalamualaikum

  8. untuk mbak iyul, salam kenal dan terima kasih sudah berkenan membacakan cerita saya untuk anak-anak, salam untuk mereka.
    iya mbak, segera menyusul 3 lagi cerita anak karangan saya dan beberapa cerita anak karangan teman-teman saya. salam

  9. Dear Mba Defidi,
    Met kenal ya, aku minta ijin ngopi juga ya mba.. anakku baru 3 bulan, tapi keliatan antusias bgt klo aku ceritain..
    TQ ya mba..

  10. halo mbak, ria, silahkan mbak, terima kasih sudah berkenan dengan cerita saya. mbak, dari pengalaman aku ,mendongeng untuk anak bagus sekali dan banyak sekali manfaatnya, terutama kita menjadi dekat dengan mereka karena komunikasi, apalagi kalo mereka sdh mengerti isi cerita jadi komunikasi 2 arah, mereka jadi cepat bisa membaca karena rasa ingin tahu yg besar, putra saya sdh bisa membaca mulai umur 3,5 tahun, mereka cepat mengenal warna dan bentuk dan jenis suara, aku biasanya jika membacakan mereka cerita suara aku buat berbeda sesuai dengan karakter masing2 pemain dalam cerita itu, nah sekarang anakku yg perempuan kalo lagi cerita sama bonekanya diasudah bisa buat variasi suara, lucu dengernya. salam untuk si kecil ya.

  11. Mbak, saya minta izin untuk copas ceritanya buat adik saya. kebetulan gurunya meminta cerita tersebut untuk jadi bahan latihan bercerita adik saya. terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: