Keikhlasan Raga dan Suci (bagian ke -2)

Cerita fiksi ini merupakan  progam cerita berantai yang bernama #3penguasa yang di tulis berantai juga oleh beberapa blogger Bogor. Dan aku  kebagian di grup 01 dengan  @Margeraye dan @airyz. Melanjutkan cerita sebelumnya , semoga nyambung dan bisa dilanjutkan dan berakhir indah .

Keikhlasan Raga dan Suci (bagian ke 2)

Tidak baik mematung disini teman, hidup itu bukan untuk bermimpi tapi mimpi harus diwujudkan untuk bisa hidup. Rupanya laki laki itu terhalang jalannya oleh raga yang termangu dipinggir jalan memikirkan nasibnya dan nasib suci.

Sementara perutnya sudah tidak dapat diajak kompromi, tercium asap ayam bakar dari ujung jalan, ehmm nikmatnya ayam bakar itu, namun jika aku membelinya berarti suci tidak dapat sarapan besok pagi, aku harus kuat untuk bisa membantu suci hingga melahirkan, om macam apa aku ini menelan ayam bakar sementara keponakan aku kelaparan.

Segera menjauh  dari tempat itu dan kembali mengayuh sepedanya ke arah kontrakan kecilnya.

Memasuki rumahnya yang sangat sempit, biasanya langsung matanya menemukan sosok suci dengan baju yang sama dari hari kehari, tapi kali ini tidak ditemukannya sosok itu. Ah, paling dia sedang di kamar mandi umum di belakang rumah kontrakan “ujar raga dalam hati.

Raga melihat ada yg ditutupi Koran di lantai, dan saat membukanya tenggorokkannya serasa tersekat, ada nasi, tempe goreng dan tumis kangkung pedas disana. Ada 2 buah piring tertelengkup. Aku sudah sangat lapar, raga langsung mengambil nasi dan menghabiskan setengah dari tumis kangkung itu dan 2 buah potong tempe.

YaTuhan, terima kasih. Rasanya baru kali ini aku makan demikian nikmat,  raga langsung bersender di tembok yang sudah tidak jelas warnanya itu, apakah putih, coklat atau abu-abu dan langsung tertidur.

Suci membuka perlahan pintu yang selalu menimbulkan bunyi berderak itu, dan menemukan raga tertidur dan hasil masakannya sudah  berserakan. Ah raga makan seperti ayam saja, sambil suci mengumpulkan nasi-nasi yang berserakan, beda sekali dengan rio”lagi lagi laki-laki jahat  itu masih ada dalam memori.

Kapan aku bisa melupakannya, kehancuran hidupku diawali dengan perkenalan dengan rio dan bukan sepenuhnya salah laki-laki itu juga, gemerlapnya uang didompet rio membuat aku terlena  aku sendiri tidak biasa dengan hidup susah, aku harus mendapatkan lelaki yang kaya juga, walau akhirnya tertipu karena aku memakai hati sementara rio memakai napsu.

Perlahan suci mengambil piring dan lauk pauk, menuntaskan semua yang ada, Ya Tuhan terima kasih, baru kali ini aku makan sedemikian nikmat. Suci tersender di tembok bersebelahan dengan raga, meluruskan kakinya, owww  kakinya kram sakit sekali, rupanya teriakan kecil suci membangunkan raga.

Ada apa suci? Perutmu kenapa? Raga langsung terduduk dan menghadap suci. Segini repotnya kah wanita hamil, atau dia saja yang memang manja, biasa anak orang kaya” hati raga bersuara.

Kaki aku kram, sakit sekali” suci meringis menahan sakit. Raga dengan sigap mendorong telapak kaki suci dan menekannya perlahan. Diujung jemari suci seperti ada luka kecil. Kenapa dengan kaki kamu?” tanya raga.

Tadi aku sedang mencuci pakaian di sumur umum, lalu ada ibu tua yang sedang mencuci juga, dan aku membantunya. Setelah selesai mencuci dia mengajak aku kerumahnya dan minta aku bantu memasak karena dia kurang sehat hari ini. Dan aku diberikan tumis kangkung dan berapa potong tempe , juga nasi untuk dibawa pulang.

Raga terhenyak dan tidak dapat berkata apa-apa selain tetap memijat perlahan kaki suci. Tuhan, maafkan tadi aku sudah mencacinya sebagai perempuan manja, tidak terbayangkan suci dapat melakukan hal itu. Mata raga menatap luka kecil itu dan alangkah indah kaki ini, kaki yang tentu saja tidak pernah menginjak sumur umum sebelumnya, yang tentunya selalu masuk salon untuk sekedar memotong dan membersihkannya. Gaya wanita masa kini.

Sudah  tidak terdengar erangan suci , dan saat raga mengangkat kepalanya, terlihat suci tertidur dengan pulas dengan perutnya yang semakin membuncit.

Tiba-tiba kebencian raga terhadap rio semakin menjadi-jadi, aku harus melakukan sesuatu, aku harus memberi pelajaran hidup berharga untuk rio. Kali ini aku harus mengalah , seribu rencana sudah tersusun di kepala raga. Aku akan mengalah demi hidup suci dan keponakan ini. Rio bergegas mandi dan mencari pakaian terbaik yang masih dia punya.

Rumah ini masih sangat terjaga apik walaupun sudah cukup lama aku tinggalkan. Saat raga menekal bel, yang keluar mbak minah dan langsung berteriak “Mas Raga!!!!” sebentar mas saya bukakan pintu , aduh mas kemana saja, koq kurus dan hitam seperti ini, memangnya mas kerja dimana??? Dan kalimat demi kalimat terus berlanjut dari mulut mbak minah hingga berhenti di pintu masuk rumah.

Bapak ada dibelakang sedang bicara dengan nenek, sudah hampir 3 bulan nenek tinggal disini karena sudah sering sakit. Ibu masih pergi ke rumah rio, biasa mas rio selalu buat repot bapak dan ibu.

Terpana melihat sosok orang yang sangat aku sayangi ini dari kejauhan, rasanya sangat menyesal aku ribut dengan Bapak untuk seorang laki laki seperti rio, tapi Bapak selalu memenangkan rio dari dulu entah kenapa???

Ada rasa ingin segera pergi, belum sanggup menemui bapak apalagi dengan keadaan aku yang sekarang. Ya, sebaiknya aku pergi saja, ini bukan waktu yang tepat.

Namun wajah pucat suci dengan perutnya yang semakin membuncit mengurungkan niat aku untuk melangkah pergi, dan juga bapak sudah menoleh kea rah aku setelah diberitahu mbak minah.

Suara pertama yang sampai dikuping aku adalah suara nenek. Raga!!! Kemari, ini nenek buatkan makanan kesukaan kamu. Suara itu sangat aku rindu, nenek sosok perempuan tua yang tegas, suaranya lantang khas Sumatra. Aku mendekat dan langsung tersungkur di pangkuan dia, mengambil tangannya dan mencium tangan yang sudah penuh keriput itu.

Nenek langsung menyodorkan pisang itu ditangan kanannya dan teh manis hangat di tangan kirinya. Aku tahu nenek adalah sosok yang paling bisa menguasai situasi jika dirumah kami sedang ada pertengkaran.

Duduk dulu, makan  pisang itu dan habiskan teh manisnya, baru kita cerita-cerita” ujar nenek dengan nada biasa seolah tidak ada masalah antara aku dan bapak.  Sementara aku lihat wajah bapak yang sudah tidak marah lagi, namun penuh dengan beribu tanda tanya menuntut penjelasan.

Setelah selesai satu babak ini, nenek langsung ambil bagian. Nenek langsung bertanya, bagaimana diluar sana nak?”  nenek tahu kamu sudah menghirup udara yang sangat panas, kulitmu menghitam, tapi dimata nenek inilah laki-laki. Ceritakan ke nenek tentang udara itu. Kulihat bapak masih terdiam dan kulihat berkaca-kaca.

Satu kalimat yang sanggup aku ucapkan “bapak sehat saja kan”, aku lihat anggukan yang tegas dan kalimat berikutnya keluar dari mulut bapak “Ibu sedang ke rumah rio” sebelum aku menanyakan keberadaan ibu.

Dari lubuk hati yang paling dalam, rasanya malu sekali aku harus bilang seperti ini tapi terbayang kembali suci dengan perutnya yang jika sewaktu waktu melahirkan dengan segala resikonya sampai harus operasi bagaimana aku menghadapinya.

Terlontar juga akhirnya kalimat, aku ingin meminjam modal dengan bapak untuk memulai suatu usaha, tadinya aku berfikir bapak akan memaki-maki dan melontarkan kalimat pedasnya, namun yang keluar justru sebaliknya “Raga, bapak berfikir untuk mengurangi aktifitas karena dokter sudah memvonis lever bapak sudah mulai lemah.  

Ada satu anak perusahaan yang sebenarnya akan bapak tutup karena kurang menguntungkan, namun jika kamu mau mulai belajar dari sinilah kamu bisa belajar, ambil perusahaan itu, kamu jalankan mulai besok atau tidak sama sekali!! Inilah bapak aku, usia merangkak terus namun intonasi suara khas sumatranya tidak berubah, lantang dan tegas.

Bapak minta aku kembali kerumah, tapi aku tolak dengan alasan aku akan memulai semua dari nol, dan bapak setuju. Kalo aku kembali kerumah, rencana yang telah aku susun akan berantakan. Akupun menolak diantar supir untuk kembali kerumah kontrakan, aku tidak mau siapapun tahu keberadaan aku dan suci. Saat meninggalkan rumah, nenek dengan tangkas menyelipkan amplop ke saku celana aku, entah berapa jumlahnya.

Sampai dirumah, aku lihat suci sedang berbaring dengan posisi setengah duduk dan mata masih terpejam, terlihat pucat dengan seringai menahan sakit.

Suci, suci kenapa!! Maaf tadi aku pergi tidak pamit dulu, aku langsung menghampiri suci, aku pegang lengannya dan nadinya lemah. Tanpa berfikir panjang, langsung aku gendong dan keluar rumah.

Pak Dodi, tolong pak, tolong panggilkan becak…aku berteriak dengan tetangga sebelah rumah. Dasar gang kumuh, beceknya minta ampun kalo habis hujan. Dengan tergesa-gesa aku dan pak dodi berjalan keluar gang menuju pangkalan becak. Bang tolong ke dokter terdekat! suara kerasku menggema di jalan yang mulai sepi ini.

Satu kesimpulan dokter, suci mesti istirahat total karena depresi, kecapean dan kurang nutrisi. Benar benar biadab rio, kebencian aku bertambah dan menambah panjang rencana rencana yang ada dikepala.

Sampai dirumah,  suci aku baringkan, dan aku berjanji besok pagi harus menukar kasur ini, dingin dan tipis, busa sudah keluar dari ujung ujungnya. Malam aku terbangun saat mendengar lirih suara suci, ya Tuhan,  suhu badannya panas sekali. Handuk yang biasa menyeka keringat saat ngamen aku celupkan diair untuk kompres suci.

Tarikan napas panjang manakala suhu mulai turun, aku tatap wajah pucat suci, wanita ini cantik sekali, sangat halus kulit wajahnya, terlihat sekali terawat. Kini terbaring lemah dengan bibir kecilnya tanpa warna.

Kebencian aku memuncak terhadap rio, rencana itu harus mulai dijalankan besok…

Bersambung…

About these ads

Posted on 25 April 2012, in Blogor, Cerita-cerita. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Asyik sambungannya. Tapi ngomong-ngomong, kok malah tulisan kedua dulu yang dibikin. Tulisan pertama di Grup 18 malah belum? Coba lihat di sini deh untuk info lengkapnya –> http://blogor.org/2011/12/28/3-penguasa/

  2. waw..rencana apa yg bakal di terjadi? kita tunggu @airyz :D

    cakep bu..
    penasaran sama endingnya

  1. Ping-balik: 3 Penguasa | blogor.org

  2. Ping-balik: Keikhlasan Raga dan Suci (bagian ke 3) | Airyz's Blog

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 387 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: