Menjelang sore, rasanya sama saja dari pagi, siang dan sore disini, udara sejuk, gerimis tipis, agak sulit matahari menembus, kami mulai lagi berjalan. Tujuan kali ini curug macan, jaraknya +/- 600 m dari tempat kami menginap. Mulai menyusuri hutan, makin kebawah jalan makin suram dan cukup terjal, mesti beberapa kali aku mencari pegangan pohon untuk melewati jalan yg menurun cukup tajam. Umumnya kalo belum pernah pergi ke suatu tempat yg dituju, rsanya lama sekali sampainya, namun saat pulang terasa cepat.

curug macan
Sambil bertanya berbagai hal dengan Pak Apun-pemandu , kami terus menyusuri hutan. Pohon2 yg besar, semak yg rapat, sesekali menemukan anggrek hutan, pakis yg sangat besar, ada rumpun seperti pohon lengkuas namun besar sekali, menurut pemandu memang masih keluarga lengkuas tapi tdk bisa dikonsumsi. Yang mungkin agak kami hindari adalah pohon rotan yg cukup banyak tersebar di kiri dan kanan jalan, duri dipohon rotan tajam sekali, masih bersisa 3 tusukan duri rotan ditangan aku manakala aku spontan memegang bagian pohon untuk menjaga keseimbangan tubuh waktu menuruni jalan setapak yg cukup licin. Falla berkali-kali terpeleset karena jalan yg licin dan menurun.

mandi bersama anak2
Akhirnya sampailah kami di air terjun yg dituju, ehm walaupun air terjunnya tidak terlalu tinggi, namun tetap merupakan pemandangan yg membuat mulut mengucapkan asma Sang Kuasa, Pencipta Alam semesta dan betapa kaya dan indahnya Indonesia-ku. Rasanya berada ditempat seperti ini mustahil kalo saat ini Negara kita sedang krisis ekonomi. Apa saja dapat tumbuh di tanah yg subur tdk terjamah polusi bahan kimia, air mengalir deras bersih , tidak terlihat sampah plastik yg menggunung, musik alam dari kicauan burung tidak memekakkan telinga, sebenarnya kita sendiri lah yg merusak alam ini, yang merusak lingkungan sendiri, dan sekarang kita jugalah yg merasakan akibatnya. Banjir dimana-mana, longsor dimana-mana, kala kemarau kekeringan melanda, semoga kita segera cepat berfikir untuk mengembalikan kelestarian alam lagi .

dibantu pemandu menyebrang sungai
Kami langsung ingin mendekati air terjun itu, apalagi sang pemandu sdh memberikan kata iya untuk segera menyeberang sungai yg cukup deras untuk sampai di air terjun.
Wuah air yang sangat dingin langsung menyerbu manakala kami mulai masuk kesungai, qila mulai berteriak kecil, alta bersorak kegirangan, falla langsung berjalan cepat ingin segera sampai di pinggir air terjun, mas Koen dan my hubby sibuk dengan kameranya.

teropong dulu ah, kakak dimana ya?
Setelah puas bermain air, kami kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak. Tidak lama kemudian my hubby mengajak ke kebun the, aku sedang membuat minuman hangat dan roti bakar, akhirnya suguhan itu dibawa kekebun the.

Perkebunan teh Nirmala
2 km keluar dari hutan, wowwwww, hamparan perkebunan teeh Nirmala indah sekali, sangat luas, menutupi beberapa perbukitan, benar2 pemandangan yg cantik.

anak2 main bulu tangkis
Mengambil tempat tepat ditengah perbukitan perbekalan diturunkan, Qila, Alta dan Falla main bulu tangkis, aku siapkan cemilan sore dan yg lain sibuk dgn kamera.
Aku sempat tertidur sebentar beralas tikar beratap awan, dingin udara ditambah sinar matahari yg masih bersisa membuat aku tdk dapat menahan kantuk, bangun dari tidur sebentar aku dan hubby kaget, loh anak2 pada kemana, kami panggil2 tidak ada sahutan, wah cukup kaget juga. Mobil melaju kedepan untuk mencari mereka, tidak ada juga. Tapi tdk

laskar pewangi
khawatir karena ada Falla bersama mereka, terus memanggail akhirnya mereka muncul, rupanya Om Falla ingin foto2 diatas bukit ya, mereka menjalan menaiki bukit, pantas saja tidak terdengar waktu dipanggil2.
Perjalanan dilanjutkan pingin liat tempat perkemahan dan home stay yg dikelola oleh masyarakat setempat. Petujuk ke arah sana sangat jelas, kami sempat terhenti saat jalan ke sana agak menghawatirkan. Namun akhirnya kami turun juga, karena tempat parkir mobil kurang memadai dan hari sdh menjelang sore, kami memutuskan untuk segera pulang, nah kali ini hal yg tdk kami duga terjadi, mobil tdk bisa naik lagi, dipaksa hampir saja masuk sisi kanan jurang.

terperangkap jalan licin
Akhirnya kami minta bantuan penduduk setempat, halah koq yg dateng ibu2 dan anak2 kecil, aku malah mengira mereka mau nonton . Aku sempat minta mereka kepinggir khawatir kena mobil, tapi jawaban mereka justru mengejutkan aku, nggak aapa2 bu kami ikut mendorong karena memang beberapa kali mobil nggak bisa naik, jalan ini sering dipakai mobil off road jadi seperti ini.
Dengan berbagai cara akhirnya mobil terbebas dari jalan licin itu, lega rasanya dan segera kembali ke penginapan.

menuju jamur bersinar
Letih terasa namun aku tetap harus siapkan makan malam yg hangat, udara mulai menusuk. bahan yg aku bawa cukup untuk membuat sup bakso, perkedel jagung, rolade saus mentega, kerupuk dan teh hijau panas. Makan mesti dipercepat karena kami akan melihat jamur yg bersinar dihutan, menurut pemandu jamur mulai bersinar sekitar jam 7 malam. Sebenarnya letih juga namun penasaran seperti apa jamur bersinar. Tempat jamur itu sekitar tempat canopy trail, wah lumayan jauh , aku pikir sekitar penginapan saja.

jenis jamur bersinar
Kami diingatkan untuk memakai sepatu kearah sana, hehehe agak sensitif kalo pemandu sdh mulai memberikan syarat tertentu.
Mulai menapaki hutan lagi, sinar senter menerangi jalan setapak, melewati sungai kecil, hih agak begidik aku, gelap banget, terang bulan nampaknya belum sanggup menembus hutan ini. Nah kami berhenti disuatu tempat.

jamur bersinar
Subhanallah, telihat titik2 kecil yg terang dan cukup banyak ternyata itu jamur yg bersinar, benar2 bersinar dan benar2 jamur. Disudut lain ada sinar yg cukup dominan ternyata itu pusatnya. seperti 4 lampu neon dijadikan satu, rupanya jamur itu ada di bekas batang pohon yg tumbang, berkumpul disana membentuk cahaya yg terang.

kumpulan jamur yg membentuk sinar terang
namun saya kamera sdh diputar2 tdk dapat menangkap kumpulan jamur yg dibekas pohon tumbang, namun jamur yg kecil tertangkap kamera. Cukup lama juga kami di sana, menurut pemandu kalo hanis hujan biasanya lebih banyak dan kira-kira 800m dari tempat ini ada lagi kumpulan jamur bersinar yg lebih banyak.

memegang ranting yg ada jamur
Tapi cukuplah ini saja, 800 m menembus hutan tengah malam, hiks aku nggak ikutan deh, benar2 letih setelah kegiatan seharian ini.
Akhirnya kami pulang, udara dingin mulai menusuk. Masing2 mempersiapkan diri untuk tidur, alta langsung masuk ke sleeping bag-nya dan tertidur, aku juga dan qila, jadi nggak tahu my hubby sama teman yg lain tidur jam berapa.

siap2 tidur
Besoknya berbagai rencana sdh tersusun lagi, kami akan masuk hutan lebih dalam untuk melihat OA (sejenis kera), melihat elang, tunggu cerita berikutnya ya.















pertamaaaaxxxx……
seru banget ya bu maennya..
bisa nangis tersedu2 nih kalokemaren ga jadi inkut..
hahahah
sesaat saya jadi laskar pewangi..
hihihi
hasil jepretannya alta bagus juga..
hehe ada bakat jadi potograper nihh ..
Oleh: falla on 9 Januari 2009
at 1:48 pm
huhuwww….perkebunanan tehnya keren banget, mupeeenggggg… pengen ke sana juga T-T
Oleh: sandi on 10 Januari 2009
at 8:12 am
halo sandi, makasih dah sampe sini, iya tuh tempat kudu dikunjungi, aku sempat beli tehnya di pabrik, ehm natural banget rasa tehnya, asli abiz.
Oleh: defidi on 10 Januari 2009
at 10:08 am
Waduh kayanya asik banget bu…., kalo bisa tau tarif nginapnya disana brapa ya bu?
Oleh: ALAN on 19 Mei 2009
at 3:17 pm
waktu kita ke ssana, per malam Rp.250.000,- coba aku cari telpon dan kontak person nya ya. salam
Oleh: defidi on 19 Mei 2009
at 7:55 pm